Puisi: Perihal Ragu
“Aksara, kamu tau, nggak?
Dari banyaknya bintang yang pernah ada di angkasa,
tapi hanya bintang Sirius yang paling terang.”
“Iya. Tau, Sha. Memangnya kenapa?”
Wajah tegasnya menatap penasaran ke arahku.
Aku menghela nafas sejenak, lalu memandangi
langit malam yang sedari tadi menemani aku dan
Aksara berbincang-bincang.
“Dari beribu kisah yang tercipta, hanya satu
yang akan terukir abadi. Tentu saja, sang takdir
yang akan ikut campur. Aksara, kamu bisa
bayangin nggak, kalau kisah yang akan
terukir abadi itu bukan kisah kita?
Bukan kisah aku dan kamu.
Kamu pernah kepikiran?”
Aku memusatkan pandanganku sepenuhnya
kepada Aksara, laki-laki yang telah mengisi
hidupku selama dua tahun terakhir.
“Pernah, pasti pernah. Aku kadang ragu, Sha.
Aku ragu sama diriku sendiri. Aneh, ya?
Padahal sejak awal, aku yang menekankan
bahwa tidak boleh ada keraguan di antara kita,” ujar Aksara pelan.
Suara miliknya itu lembut, aku selalu suka dengan
suara milik Aksara, dan akan terus seperti itu.
“Aksara, aku sudah sepenuhnya jatuh.
Jatuh ke dalam kamu. Dan perihal ragu,
bukan sebuah masalah besar kalau
ditangani dengan benar.
Kamu percaya 'kan, sama aku?”
Apapun, apapun akan aku lakukan
demi membahagiakan insan di depanku.
“Selalu.”
------------------------Tamma------------------------
Komentar
Posting Komentar