The Hero

Suara piano dari lantai bawah sayup-sayup membangunkannya. Embusan angin dingin bertiup masuk ke kamar, menyapu gorden, berdesir perlahan. Jauh di luar terdengar suara ombak menghantam karang, kemudian terseret mundur dan terhisap di antara butir pasir. Jendela kayu biru itu tak pernah sekalipun dia tutup. Sejenak angin laut membawa suasana pantai ke dalam, aroma bercampur garam diselimuti udara dingin. Tokyo sudah memasuki bulan Oktober, suhu udara menurun, angin dingin menembus kulit, menyapa tulang-tulang minim lemak. 


     Dia mendekat ke jendela biru itu. Hawa dingin segera menjalari wajah dan tubuhnya. Dia terdiam sejenak melihat ke luar jendela, dia melihat ada yang asing di wajah orang-orang di luaran sana, terlihat banyak orang-orang mulai memakai masker. Entah mengapa mereka tampak lesu dan pucat, tidak ada satupun orang yang terlihat bahagia di depan rumahnya. 


     Dia sangat tidak peduli, dia tidak ingin mencari tahu apa yang terjadi di luaran sana. Dia tidak ingin tahu hal tersebut karena dia tahu bahwa dunia tidak akan seperti dongeng dongeng yang pernah diceritakan ibunya, dia tahu bahwa diluaran sana mengerikan. 


     Karena dia bosan melihat keluar jendela saja, dia pun menonton serial televisi kesukaannya. Tetapi saat dia mencari film kesukaan, dia menemukan satu berita yang membuat dia tertarik untuk menontonnya. Biasanya dia sangat tidak suka menonton berita berita di televisi, karena menurutnya itu film yang sangat membosankan. 


     Dia pun segera mengeraskan suara dari televisinya, dia kaget dan juga panik karena berita tersebut, dia sangat cemas akan hal tersebut, dia cemas karena berita tersebut menjelaskan bahwa para pelajar, pengusaha dan lainnya akan diliburkan selama 2 minggu, itu dikarenakan ada wabah baru yang sudah menyebar ke seluruh dunia. 





     Dia tahu bahwa wabah tersebut tidak akan selesai hanya 2 minggu saja, dia yakin wabah tersebut pasti akan menyebar berbulan-bulan atau juga bertahun-tahun, dia tahu hal tersebut karena dia sangat suka membaca buku yang berisi tentang dunia kesehatan, dan dia sering membaca tentang wabah-wabah yang pernah terjadi di tahun-tahun lalu.


      Dia bingung, dan tidak yakin akan berita tersebut. Dia pun belajar untuk ikhlas dalam kondisi ini, karena dia harus melewatkan pesta ulang tahunnya bersama teman-teman terbaiknya. Padahal sebelum wabah ini menyebar, dia sudah berjanji kepada teman-temannya untuk mentraktir mereka di acara ulang tahunnya, sayangnya rencana itu tidak berhasil dilakukan. 


     Sudah 2 minggu lamanya wabah ini masih belum berhenti, pemerintah mulai khawatir terhadap ekonomi dan juga masa depan anak-anak, dan pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk melakukan kerja dari rumah dan sekolah dari rumah.


     Siapakah dia? dia adalah orang yang sangat periang, tubuhnya yang tinggi serta rambutnya yang bergelombang, membuat ia disukai banyak orang. Dia bernama 花見オリバー dalam bahasa Jepang, itu dibaca Hanami oribā, tetapi dalam Bahasa Inggris Hanami oribā dibaca Hanami Oliver, dia bisa dipanggil Oliver.


     Oliver memiliki keturunan Inggris dari Ayahnya. Ayahnya bernama Joe Christian Obey. Sekarang Ayahnya tinggal di New York karena Ayahnya harus bekerja di salah satu perusahaan di Amerika. Dikarenakan Oliver harus menyelesaikan sekolahnya di Jepang, Oliver, adiknya dan Ibunya pun harus tinggal di Jepang.


     Oliver memiliki Ibu yang sangat perhatian dan cantik, kulitnya yang putih serta matanya yang berwarna coklat membuat ia semakin kagum kepada Ibunya. Ibunya bernama 花江ギリシャ, dibaca Hanae Girisha, tetapi dalam Bahasa Inggris Hanae Girisha dibaca Hanae Greece, Ibunya biasa dipanggil Hanae. Ibunya adalah seorang Guru Matematika dan Fisika di SMA (sekolah menengah atas) Sendai Ikue Gakuen. 


     Oliver adalah anak pertama dari Joe dan Hanae, dia memiliki satu adik laki-laki yang sangat imut, dia berusia 8 tahun. Adiknya bernama 坂崎裕介,  dibaca Yusuke Sakazaki, tapi ada yang unik, entah mengapa keluarganya sering memanggil dia Sabesty.




     Tidak terasa Oliver sudah lulus SD (Sekolah dasar), selama ini ia hanya belajar dirumah dan mengembangkan kepintarannya dengan belajar bersama Ibunya dan belajar lewat aplikasi online. Dikarenakan ia sudah lulus sekolah dasar, Ibunya pun memutuskan untuk  mendaftarkan ia ke suatu sekolah, ia didaftarkan ke sekolah yang bernama SMP Otsuma Tama. 


     Sekolah itu berada di kota Tama yang berada di sebelah barat Tokyo, dan juga itu sekolah swasta khusus murid perempuan. Ibunya mendaftarkan dia disana karena sekolah itu memiliki pendidikannya yang sangat bagus di Jepang.


     Seiringnya lamanya waktu, prestasi ia semakin menurun, dan juga ia menjadi orang yang sangat tidak peduli dengan tugas yang diberikan Gurunya. Ia merenung sejenak,

   “Kenapa di sekolah online ini aku tidak mengenal Guru-guru di sekolah? bahkan teman sekelasku juga”. 

     Sepertinya Oliver kurang bersosialisasi di sekolah online ini.


     Oliver hanya memiliki 1 teman saja, ia bernama  川口ゆりな, dibaca Kawaguchi Yurina, dia sering dipanggil Yurina. Yurina adalah teman pertama di SMP nya, Yurina pandai bernyanyi dan bergaul, selain itu dia sangat cantik, rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang tinggi membuat Oliver semakin senang berteman dengannya.


     Tiba-tiba wabah menurun drastis dan juga obatnya sudah ditemukan, ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan perasaannya saat itu, pikirannya hanya 

   “Sebentar lagi pasti akan sekolah, dan aku pasti memiliki banyak teman”.


     Saat Oliver dan ibunya berada di ruang tamu, Oliver bertanya sesuatu kepada Ibunya.

   “Bu, wabah ini kan sudah semakin menurun, kira-kira kapankah aku bisa ke sekolah lagi? aku ingin sekali memiliki banyak teman” ucap Oliver sambil murung

   “Ibu tidak tahu kapan kamu akan sekolah lagi, kita doakan yang terbaik saja ya, semoga saja wabah ini cepat berakhir” ucap Ibunya sambil merasa kasihan.


     

     Tidak lama kemudian Ibunya Oliver masuk ke kamarnya dan memberi sesuatu informasi.

   “Oliver, besok mau ke sekolah ga?” tanya Ibu Oliver sambil tersenyum

   “Mau dong, tapi emang bisa, Bu? kan wabah masih menyebar” tanya Oliver

   “Bisa dong, Oliver” ucap Ibunya yang sedang meyakinkan Oliver.

   “Benarkah? tapi bagaimana caranya, Bu?” tanya Oliver bingung dan kaget. 

   “Iya, Oliver. Kamu besok bisa ke sekolah dengan cara mengambil buku buku kamu yang sudah lama tidak kamu ambil” ucap Ibu Oliver sambil memberi surat informasi dari sekolah. 


     Sayangnya ada beberapa murid tidak diperbolehkan ke sekolah, dan harus belajar dirumah terlebih dahulu. Oliver sedikit kecewa saat membaca informasi tersebut. Walaupun ia belum bisa berjumpa dengan teman-temannya, ia tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah. 


     Esok harinya ia pun pergi ke sekolah untuk mengambil buku, ia sangat berdebar-debar karena ia sangat semangat. Saat ia sudah sampai di sekolah, ia mendengar ada salah satu Guru yang berusaha memberitahu muridnya untuk membuka kamera, perasaan sedih dan senang bercampur aduk. Ia sedih, hanya karena memberi tahu untuk membuka kamera saja, Guru sampai membesarkan suaranya. 


     Disaat itu ia tersadar,

   “Kenapa aku tidak pernah peduli dengan Guruku? padahal Guruku sudah memberikan yang terbaik untukku, dan aku hanya bertele-tele saja”.

     Hati kecil Oliver pun tersadar, betapa susahnya menjadi Guru saat ini, ia yang sering bermalas-malasan merasa tersipu malu, karena melihat para Guru tidak mengeluh saat mengajar muridnya. Apa lagi Ibunya sendiri adalah seorang Guru.


     Setelah ia mengambil buku, ia langsung bergegas pulang, karena diluaran sana masih belum aman. Ia pun pulang dengan perasaan kasihan kepada Guru-guru di sekolah. Hari pun sudah larut malam, jam dinding menunjukkan waktu sudah pukul 09.00 PM. Ia pun segera pergi ke kamar dan menyalakan alarm di handphonenya. 


     Tiba-tiba ia terbangun ditengah malam, ia pun melihat jam di handphonenya, waktu menunjukan pukul 12.23 AM. Ia pun tersadar, ada notifikasi dari aplikasi kelas online, saat ia membuka notifikasi tersebut, ia melihat bahwa Gurunya memberi nilai tugasnya yang ia kerjakan tadi siang, ia sangat terharu sekali, karena Gurunya masih belum tidur demi muridnya. 


     Menurutnya, Guru adalah pahlawan yang sesungguhnya, dan juga orang yang benar benar berjasa di dalam hidupnya. Ia sangat ingin sekali berterima kasih kepada semua Guru-guru di dunia ini. Ia pun melanjutkan tidurnya setelah meminum secangkir air hangat.



     Esok harinya, ia berpikir sejenak, 

   “Bagaimana jika Guru mengeluh saat mengajar aku? pasti aku tidak tahu apa-apa, aku akan ada dijalan yang salah dan juga pasti masa depanku hancur”.

     Disaat itulah ia mulai belajar untuk menghargai Guru yang sudah berusaha keras demi muridnya, dan juga ia sudah mulai memiliki motivasi untuk belajar serius.



"Ketinggian akhlak dan kemajuan seseorang dan kemuliaan budi bisa dilihat dengan cara ia bagaimana memperlakukan dan menghargai seorang Guru."


Karya: Dyah Sifra


Komentar

  1. keren banget penulisannyaaaa!! semangat berkaryaa <33

    BalasHapus
  2. KERENN BANGETTT ihhhh, SEMANGATT-!!! 😍

    BalasHapus
  3. Keren bangett dydy!! 😎😎🤩🤩🤩🤩

    BalasHapus
  4. bagus banget dyahhh💘💘💘 semangatt

    BalasHapus
  5. Gilaaaa kereen Bangeett 🤩🤩, lanjutin semangatmu 🥳🥳🥰💖💞✨💕

    BalasHapus
  6. Trims Dyah ceritanya ✌️✌️
    Perbanyak baca, latihan nulis, dan semangat terus dalam berkarya.
    Semoga pandemi lekas berlalu, biar bisa ke sekolah ketemu tmn2...

    BalasHapus
  7. keren bgt gila :"". mangat dek!

    BalasHapus
  8. Penggunaan kata dan alur ceritanya keren banget. Djosgandoskanlah--

    Di tunggu yah kak, karya terbarunya.

    BalasHapus

Posting Komentar