Buku Harian

Terdengar suara bel rumah berbunyi, membuat seisi rumah yang sedang makan siang kaget. 

“Pah, itu siapa ya  yang datang kerumah?.” 

“Gak tau nak, coba papah cek dulu ya.” Lelaki itu pun pergi untuk mengecek siapa yang datang kerumah mereka, saat di pintu di buka , lelaki itupun kaget.

“Bu Susan! Eh ada bu Terry juga, silahkan masuk bu udah lama tidak bertemu.” Senang lelaki itu sambil menutup pintu.

“Iya, Bryan terakhir kita bertemu bersama teman-temanmu itu saat reunion.”

“Betul sekali, Raein yang mengajak kami berdua untuk ikut acar itu ahaha”.

Tak terasa mereka sampai di ruang makan. 

“Halo, semuanya lagi pada makan ya, tidak ngajak ibu nih?.” Tanya bu Terry.

“Eh, jadi yang datang bu Terry dan bu Susan, mari bu makan kebetulan kami sudah selesai jadi ibu bisa duduk di sini.” Tawar wanita tersebut.

“Ibu cuman bercanda saja kok, kalo sudah ayo kita ngobrol di ruang tamu saja Wit.” Ajak bu Terry.

“Waduh, udah besar aja kamu… siapa namamu teh ibu lupa.” Tanya bu Susan pada anak tersebut.

“Nama saya Ryan bu, saya kelas 4 SD, berat badan saya 30 kilo,  saya berjenis kelamin laki-laki, dan saya akan menjaga  mamah saya dari penjahat bu!.” Jawab Ryan dengan tegas dan panjang lebar.

Bu Susan pun tertawa mendengarnya dan merasa kagum. “Wah anak siapa ini pintar sekali.” 

“Bu saya tidur dulu yah, dadah.” Pergi Ryan dengan sopan sambil menarik tangan Wita. 

Bu Susan pun meranjak dari kursi dan menyusul para orangtua itu ke ruang tamu. “Bu Rein, cewek itu siapa y?.” Tanyanya penasaran.

“Oh itu sepupu saya bu, dia menginap dirumah kami beberapa hari kedepan.” Jelas mertua Bryan menjawab.

“Oh, iya bu dapat darimana alamat rumah kami bu?.” Tanya ibu Raein, karena mereka tidak pernah memberitaukan hal tersebut.

“Oh..itu dari sahabat Raein si itu siapa namanya?.” 

“Itu si Dear bu.” Tambah bu Terry

“Oh..gitu bu.”

“Oh iya Bryan istrimu mana kok ibu gak liat sih dari tadi lho.” Tanya bu Terry sebab memang ia tidak melihat bahkan sehelai rambutnya pun. “Iya bu Dear katanya lagi beli sesuatu saya juga tidak tau bu.” Jelas Bryan.


Pov *Dikamar Ryan

Suana yang dimana setiap orang masuk kedalam ruangan ini akan merasa sangat nyaman dan tenang. Perpaduan warna dinding yang berbentuk batu bata dengan adanya hiasan lampu kuning, dan poto poto keluarga , ya Ryan anak yang sangat suka ke aesthetic an.

“Tante Wita mereka punya kisah yang menarik gak?.” Tanya Ryan dengan wajah yang sangat penasaran.

Wita pun menghela napas, karna dia sudah tau pasti Ryan keponakannya itu ingin mendengar kisah tersebut sebagai pengantar tidurnya. “Ada sayang..tapi kamu yakin gak akan nangis?, soalnya ada sedihnya lohh.”

“Iya tante aku kan cowok.”

“Ok, soo bu Susan dan bu Terry mereka adalah guru mamah papah mu saat kelas 9SMP, lebih tepatnya wali kelas, bu Susan di kelas 9.2 dan bu Terry 9.1.” Wita pun menceritakannya.

Flashback*   Saat Wita tak sengaja membaca buku harian sepupunya dua hari lalu.

Aku tak tau apa yang akan terjadi, intinya aku sangat sedih, mungkin semua murid kelas 9 juga sedih, dua guru yang gaul, yang asik dan memiliki tanggung jawab yang penuh untuk kami sekaligus ibu bagi kami di sekolah yang selalu kami senangi, yang sangat kami hormati, sebentar lagi akan kami tinggalkan . Guru, yang setiap mata pelajarannya selalu ada cerita menarik yang akan kami dengar, sehingga kami mengerti apa yang diajarkan beliau, dan selalu ada rasa yang menegangkan. Kami semua merasa di anggap anak sendiri oleh mereka. Tinggal hitungan hari kami akan berpisah, aku selalu mengingat masa-masa awal dan pertengahan kami kelas 9, dimana kami berebut kelas ketika kami tau walikelasnya siapa, kami bahkan sampai berdoa agar Tuhan mengabulkan permintaan kami, karena kami berfikir jika walikelasnya bu Susan tidak akan seru dan juga ada rasa takut, tapi ternyata ketika sudah ada hasilnya itu semua tidak benar, kami enjoy-enjoy saja saat itu, bahkan bu Susan seru di ajak mengobrol setiap perwalian. Aku juga mengingat dimana kami saling menunjuk siapa yang akan menjadi perwalian pidato, itu sangat menyenangkan jika di ingat lagi, rasanya aku ingin memperlambat waktu. Kasih sayang yang mereka berikan pada kami sangat berbeda, walau hanya sebatas virtual tetapi sangat terasa.  Pandemi ini sangat menyebalkan, aku tidak bisa melihat wajah yang cantik itu, senyuman yang manis hingga membuat hati merasa lega yang tertutup oleh masker,  bahkan saat aku pertama kali mengikuti PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) hatiku mengatakan cium tangan gurumu, tapi tanganku tidak bergerak dan aku baru sadar jika kami sedang melakukan protocol, yang kami lakukan hanyalah membungkuk memberi salam.

Aku selalu membayangkan wajah mereka ketika melihat guru-guruku, ketika mereka tersenyum dan tertawa aku selalu membayangkan wajah itu, karena aku tidak bisa melihatnya secara langsung dikarenakan masker yang menutup. SUSANA SRI AG******* maaf jika aku lancang, aku bingung aku harus menganggapmu apa, guru? Ataukah ibu?  Mengapa kau melakukan ini? Aku selalu berusaha menganggapmu hanya sebagai seorang guru, tapi kau menganggap kami sebagai anakmu sendiri, kau selalu mengkhawatirkan kami, bahkan ketika Arjun yang sulit menhadapi pendidikan ini, kau selalu memanggil dia kau selalu memarahi dia hingga kau menyuruhnya untuk datang kesekolah setiap hari, sesayang itukah kau terhadap muridmu?, bahkan saat PTMT pelajaran IPA kau relakan dirimu juga waktumu untuk mengajar kami yang masih belum paham, sesayang itukah kau terhadap kami?.

Aku tidak merasakan itu sebagai kewajiban seorang guru melainkan kewajiban seorang ibu terhadap anaknya. BUDI PRACAYANI****** maaf jika aku lancang, aku juga bingung harus menganggapmu apa? Guru? Ataukah seorang kakak? Mengapa kau juga melakukan ini? Kami merasa jika kau itu seorang kakak bukan seorang guru , kau mengajar dengan asik sehingga kami merasa nyaman, kau seperti mengajar adikmu dengan tenang dan tidak membuatnya stress, seperti itulah dirimu ku gambar.  Semua rasa itu hanya kami rasakan sementara, tak terasa kami sebentar lagi akan mengadakan acara perpisahan, bahkan kami tidak sempat mengutarakan isi hati kami padamu. 

Aku hanya berharap jika perpisahan itu tiba, pandemic ini sudah hilang dan kami melakukannya secara offline.  Aku ingin sekali melihat wajah nan cantik itu senyuman yang sangat bahagia, aku , kami semua ingin sekali merasakan pelukan hangat yang diberikan seorang guru untuk terakhir kalinya, mencium tangan yang lembut nan harum tersebut, sehingga tak kuasa menahan genangan air mata. 

“Dari situ ia memiliki cita-cita yang mulia Ryan.., eh dah tidur toh.” Kaget Wita, karena tidak seperti biasanya keponakannya itu tidur secepat itu. Wanita itupun menghela nafas sambil mengelus-elus kepala  keponakan yang ia sayangi itu, dan mengatakan dengan suara pelan,  “Cita-cita bundamu itu sebagai guru yang berjasa, iya terinspirasi oleh gurunya itu, dan semua itu tercapai dengan usahanya, ia mencintai anak-anak..hikss hingga iya merelakan nyawanya untuk muridnya tersebut..hikss. Bisiknya  hingga ia tidak sadar ia sudah menangis, Wita pun menghela nafasnya, “Ryan kamu murid yang paling beruntung.” Lanjutnya sambil menahan tangisan.

“Deswitaaa, Dear udah pulang nih, semua juga udah pada dating dan kumpul.” Teriak Bryan memanggil Wita.

“Iya! Sebentar, haduhh aku nangis lagi kan hikss.” Wita pun pergi menyusul kebawah, benar saja Dear sudah pulang dan mereka para alumni sudah berkumpul semua termasuk pacarnya juga guru yang di sayangi mereka tidak lupa dengan mamah Raein, mereka sudah siap ke makam, memperingati kematian dan ulang tahun sekaligus seorang istri pertama Bryan, yang meninggal dan lahir  tepat 25, November . Merkapun berangkat. ‘Selamat hari guru dan selamat ulang tahun muridku.’ Batin bu Susan dan bu Terry

*Pov di kamar Ryan

Sebenarnya Ryan belum tidur karna ia tidak mau tantenya melihatnya menangis, oleh karena itu ia menutup matanya menggunakan lengannya dan menahan air matanya.

“Dasar tante yang aneh.” Iya pun mengambil sebuah buku di bawah bantalnya yang sedari tadi ia sembunyikan. “Buku harian apa ini sungguh menyebalkan hikss.” Tangisnya sambil membaca di belakang buku itu.

 “Yang ingin kami sampaikan bukanlah nasehat suci namun sebuah harapan sebagai seorang ibu terhadap anaknya.”  - Dra. Yuliana Dwi Wahyanti.


                                                           END


*Karya: Elisabeth Oktaviani

Komentar

  1. Kakak gue keren banget , semangat 😁

    BalasHapus
  2. Bagus banget ceritanya 😄👍🏻

    BalasHapus
  3. keren sampai nyanyi super idol

    BalasHapus
  4. Mantul boru tante ����

    BalasHapus
  5. Semangat terus berkarya ya boru

    BalasHapus
  6. Bwahaha keren ceritanya 👍🏻

    BalasHapus
  7. Keren kali bang, sangat menginspirasi :)

    BalasHapus
  8. KERENNN BGTTT TAA, SEMANGAT-!!

    BalasHapus
  9. Jadi disini teh ada Dear juga yah...
    Mmmmmm kok syedih yah... hiks hiks... mmmmm... iya yah pandemi kek gini kita jd serba terbatas ya, ga kerasa udah mau perpisahan lg... ehhh kelulusan diiiinggg (klo perpisahan tu kek gmn gtu loh Ta... 😭)
    Makasih loh untuk menjadikan your sista ini sbg penokohan di ceritamu. Makasih Ta, smg tetap menulis diwaktu senggangmu, mengasah bakat (bukan ngasah peso loh...), panjang umurmu dan bahagia di kehidupanmu...
    Mon maap juga kl ibu ada yg kurang2 dalam menghajar ehehe... i'm not perfect Lady., but i wish all the best for my students,, choose your way, do it with passion, so you can be the winner.
    Haduh mon maap klo Englishnya kurang memadai 😅
    Sukses Ta, dan untuk semua pembaca,,ayo dukung penulis2 ini 💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaaa~ ibu terbaik emggg, jadi terharu buuu saranghaeee buuuu banyaj banyaj

      Hapus
  10. keren bangettttt, aku tunggu cerita yang lainnya, ga sabar nunggu cerita yang lainnnnnn >_<

    BalasHapus
  11. FIX BANGGA BANGET SIH GURU GURU SM KM, GILA GA NYANGKA DARI SLAMER

    BalasHapus
  12. aku aja yang bukan slamer terkesima loh 😙😙

    BalasHapus
  13. FIX HARUS BUAT CERITA LAGIIIIIIUUU

    BalasHapus
  14. Widih mantep sekali bun. Mungkin lain kali bisa buat cerita tentang kehebatan DPR mengambil bansos😏😏😏😏

    BalasHapus
  15. Wah sedih juga ya, jadi keinget sekolh kakk hahah smangat dekk semoga jadj penulis yang handal

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. Kerenn banget ceritanyaaa... SEMANGAT Tata🔥🔥

    BalasHapus
  18. Thats cool,luv ur story❤️❤️❤️❤️

    BalasHapus
  19. Sukses selalu y dek ku..semangat y😍😍moga dapat juara y dek

    BalasHapus
  20. Ilustrasi yang keren, menempatkan situasi ketika dewasa dan bernostalgia dengan cerita unik semasa sekolah yang penuh dengan suka duka...

    Djosgandoskanlah--

    Di tunggu yah kak, karya terbarunya.

    BalasHapus
  21. klo ga sampe menang keterlaluan serius

    BalasHapus
  22. CEPETAN BUAT CERITA YANG LAINNNN

    BalasHapus

Posting Komentar