Teacher or Hero
Matahari pagi menyinari dunia. Angin berhembus melewati setiap batang pohon pohon. Melewati sela – sela daun hijau membuat daun beradu menghasilkan suara yang cukup menenangkan.
‘Suasana pagi yang indah’ pikir seorang wanita dengan jas dan rok kantor yang serba hitam. Rambut yang baru saja dipotong pendek olehnya kemarin ia urai, dihiasi dengan jepit lidi hitam menahan poninya untuk tidak jatuh ke depan mata.
Sudah lama ia tak menikmati pagi tenang seperti ini. Selama ini ia hanya duduk memberi nasihat kepada pasien – pasien, dan terapi. Memang gaji pada pekerjaan dulunya cukup besar, tapi ia cukup bosan dan memutuskan untuk mencari suasana baru. Lalu kakak kandungnya merekomendasikan dirinya untuk menjadi guru di sebuah SMP yang cukup ternama. Gajinya bisa dibilang cukup besar, dan tugasnya tak terlalu berat.
Hanya menjadi guru BK dan wali kelas 9. 2, secara, memang BK ada hubungannya dengan gelar di belakang namanya. Dan disinilah ia berakhir, di lantai 3 sebuah sekolah. Melewati lorong kelas yang penuh dengan tanaman hijau mengikuti wakil kepala sekolah yang menuntunnya ke ruang kelas yang akan ia pegang.
Langkahnya terhenti di depan kelas yang bertuliskan 9.2 di pintunya. Ruang kelas itu cukup besar, dengan 30 bangku siswa juga 1 meja guru tepat di samping kanannya. Papan tulis besar berjajar di belakangnya dengan hiasan – hiasan yang belum sempat dilepas. Ruang kelas itu berwarna krem bercampur putih dengan jendela yang lumayan besar terpampang di samping kelas.
Di bagian belakangnya terdapat 2 rak buku kecil dan karya lukis yang dipajang. Serta penghargaan dan daftar juara kelas. Kedatangannya sukses membuat para murid senyap. Ruang yang tadinya
cukup penuh dengan tawa akhirnya nyaris tak ada suara. Semua tatapan berfokus pada dirinya membuatnya sedikit gugup.
Wakil Kepala sekolah mulai bersuara, mengalihkan semua pandangan siswa. Membuat ke gugup-annya sedikit mereda. Matanya menatap pelosok ruang kelas 9.2 yang kelak akan menjadi kelasnya sampai tatapannya terkunci pada satu orang siswi dengan rambut hitam lurus yang pendek sebahu. Siswi itu menunduk tanpa melihat ke arah wakil kepala sekolah dan dirinya. Tangan kanannya bergerak cepat dengan tangan kirinya yang berada di depan, menutupi kegiatannya. Siswi itu duduk di ujung kiri kelas, terlihat tidak dipedulikan dengan badan yang lesu membuat ia sempat berpikir, ‘apakah siswi itu hantu atau murid biasa?’
Ia terhanyut dengan pikirannya hingga tepukkan di bahu menyadarkannya. Wakil kepala sekolah langsung memberi isyarat pada dirinya untuk memperkenalkan dirinya. Lalu ia mengangguk gugup dan mulai membuka suaranya.
“Selamat pagi anak – anak, nama ibu Cahyaningsih Sadarman. Panggil saja Bu Cahya yaa... mulai hari besok dan seterusnya, ibu akan menggantikan Bu Wati sebagai guru BK dan wali kelas kalian ya. Salam kenal ya anak – anak,” ujarnya diakhiri dengan senyum di hiasi dengan 2 lesung pipi yang menjadi andalannya. Dan berakhirlah hari pertamanya di kelas barunya. Keesokkan harinya Bu Cahya dipersilahkan untuk mulai mengajar dengan jadwal pertama, melakukan perwalian dengan para siswa 9.2 di pagi hari, dilanjutkan dengan jadwal mengajar bimbingan konseling di kelas 8.
Perwalian Bu Cahya dengan murid 9.2 berjalan dengan lancar.
Untungnya sejak kecil ia mempunyai kemampuan untuk mencairkan suasana yang membuatnya cepat akrab dan disukai semua anak di kelasnya.
Sekarang waktunya untuk beristirahat di ruang khusus BK-nya.
Ditemani dengan secangkir teh melati yang baunya memenuhi ruangan serta buku panduan bimbingan konseling untuk mencari materi pengajaran tak lupa dengan instrumental dari beberapa lagu yang menenangkan. Ini seperti melakukan Me Time-nya.
Tapi tak berapa lama kemudian, seorang wanita tua berseragam sama
dengannya membuka pintu. Bu Cahya yang melihat itu langsung menutup bukunya dan melirik kearah pintu di depannya melihat tamu yang tiba – tiba saja datang.
“Hallo Bu Cahya, maaf mengganggu, Bu Cahya lagi istirahat ya?” sapa lembut Bu Yati yang seingatnya adalah guru Matematika.
“Oh nggak kok Bu Yati, ada apa ya?” jawabnya Bu Cahya santai.
“Gini bu, anak kelas ibu yang namanya Dara tadi tidak
memperhatikan pelajaran saya. Dia malah sibuk menggambar di kelas sepanjang pelajaran. Dan ini yang ketiga kalinya bu,” lapor Bu Yati sambil membenarkan kacamata bulatnya. Mendengar itu Bu Cahya mengangguk dan tersenyum.
“Baik bu, nanti saya akan bicara dengan Dara. Mohon maaf ya bu”
“Iya bu, tidak apa apa. Saya ijin undur diri ya bu. Maaf kalau mengganggu istirahat ibu” kata Bu Yati sembari keluar dari ruang BK. Bu Cahya langsung menyambar standing microphone kecil di mejanya. Tak lupa menekan tombol untuk bell informasi.
“Pengumuman untuk Zefanya Darawati dari kelas 9.2. ditunggu di ruang Bimbingan Konseling setelah pulang sekolah. sekali lagi, untuk Zefanya Darawati dari kelas 9.2. ditunggu di ruang Bimbingan Konseling setelah pulang sekolah. Sekian, terimakasih untuk perhatiannya” setelah itu, ia mematikan
standing microphone nya, dan menunggu waktu istirahatnya selesai
Agak lama setelah itu, sebuah bantingan pintu sukses membuatnya terkejut. Tangannya ia eluskan ke dadanya sambil menengok ke arah pelaku pembanting pintu tadi.
Ah... siswi yang kemari menarik perhatiannya ternyata. Wajahnya sekarang penuh dengan ketakutan dengan mulut yang terbuka, mengeluarkan nafas yang terputus-putus seperti selesai berlari.
“Loh, kamu Dara kan? Kok datang kesini-“
“Ibu tolong bu, maafkan saya. Saya janji ga akan menggambar pas
pelajaran lagi. Saya janji bu, tolong jangan panggil orang tua saya” sambarnya panik kepada Bu Cahya sambil berlutut dengan kedua tangan yang menyatu. Bu Cahya yang melihat itu langsung berdiri dan berlari kecil ke arah siswi itu.
“Nggak kok, ibu cuman mau ngobrol sama kamu. Ayo duduk dulu,” ujar
Bu Cahya lembut disertai senyuman. Dara mengangguk.
“B-baik bu,” lalu Dara berdiri dan duduk di kursi yang disediakan dengan wajah yang tertunduk dan tangan yang beradu memikirkan apa yang selanjutnya Bu Cahya lakukan padanya.
“Boleh ibu lihat lukisanmu Dara?” mendengar itu, Dara langsung mengangkat wajahnya agak kebingungan.
“Ibu yakin bu? Ibu ga akan panggil orang tua saya kan?” tanyanya berturut – turut, dibalas dengan anggukkan pelan dari guru di depannya. Melihat itu, Dara langsung berdiri dan pergi ke kelasnya mengambil kertas yang ia gambar tadi dan menyerahkannya kepada Bu Cahya. Bu Cahya melihat gambar lumayan lama menciptakan keheningan yang membuat jantung Dari berdegup kencang.
“Hmm.. Lukisan kamu bagus ya Dara” tak berapa lama, suara memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Dara mengarahkan pandangannya pada guru di depannya.
“Terimakasih bu,” jawabnya berbisik dengan pipi yang sedikit memerah malu.
“Kamu udah pernah ikut lomba melukis?” tanya Bu Cahya mengembalikan lukisan Dara
“Belum pernah bu,” Dara menggeleng pelan.
“Eh? Kenapa?”
“Orang tua saya ga bolehin bu”
“Kok gitu”
“Dara gatau bu”
“Hmm oke kalau begitu, Dara boleh kembali ke kelas”
“Eh, beneran bu?” tanya Dara sedikit tak percaya.
“Iya, lain kali gambarnya pas istirahat ya Dara. Kalau lagi pelajaran, harus fokus ke pelajaran ya. Biar Dara ngerti pelajarannya,” pesan Bu Cahya diakhiri dengan senyuman kecil
“Iya bu. Terimakasih banyak bu”
Bu Cahya mengangguk menanggapi, seraya menatap Dara yang menjauh dari pintu ruangannya. Keesokan harinya, hari kedua ia mengajar BK di kelasnya. Ia masih sibuk dengan lembar biodata muridnya yang tadi ia jadikan tugas Bimbingan Konseling.
“Selamat istirahat bu Cahya” sapa seseorang kepadanya. Bu Cahya mengalihkan pandangannya ke arah suara yang ia dengar. Dua siswa tersenyum ramah kearahnya menanti balasan dari dirinya. Bu Cahya lalu mengangguk dan balas tersenyum.
“Iya nak, kamu juga ya... Eh sebentar nak, namamu siapa?” tanya Bu Cahya
“Saya Darman bu, ini Ridho”
“Oh iya, Darman ketua kelasnya ya?”
“Iya bu hehe, ada yang bisa di bantu bu?” tanya Darman sopan.
“Oh engga sih, ibu cuman mau nanya sedikit. Kamu kenal sama Dara?”
“Oh, Dara saya tahu bu. Tapi kalau kenal... saya ga terlalu kenal bu. Soalnya Dara anaknya agak aneh bu” jawab Darman agak berbisik.
“Agak aneh? Maksudnya gimana tuh?” tanya Bu Cahya penasaran.
“Dara suka menyendiri bu, kalau kami deketin malah dianya menjauh dari kita bu” jawab Darman
“Dara juga sering nangis sambil teriak-teriak kalau nilai ulangannya jelek. Dia sampai sujud-sujud ke guru supaya nilainya di perbaiki” lanjut Ridho di respon dengan anggukkan dari Bu Cahya.
“Oh gitu. Emm.. Dara memang sama sekali ga punya temen ya?”
“Iya- Eh kalau ga salah ada bu, iyakan do?”
“Iya, kami sering melihat Dara sama Sarah, Ridwan, Danu, dan Nada bu. Tapi Dara keliatannya ga nyaman sama mereka...”
“Mereka berempat memang troublemakers sih, ga heran kan kalau Dara ga nyaman sama mereka?”
“Hmm gitu ya. Oke kalau begitu terimakasih ya, makan yang banyak,” canda Bu Cahya.
“Hehe oke bu, kami permisi dulu,” Darman dan Ridho berlalu dari hadapan Bu Cahya. Tak berapa lama, Bu Cahya ikut keluar dari kelas karena perintah perutnya yang sudah memberikan sinyal. Ia terus berjalan sampai ia mendengar suara.
“DARAAA, lu bawa uang berapa?” mendengar itu Bu Cahya langsung bergegas ke arah suara yang tadi ia
dengar, dan tampaklah Dara di tengah 4 orang anak yang terlihat sangat menempel akrab dengan Dara.
“Cuman 20 ribu,” jawab Dara gemetar.
“Nah, beliin kita berempat mie goreng,” suruh salah satu anak tadi dengan santai.
“Enggak bisa,” tolak Dara.
“Hah? Kok ga bisa ? Mie goreng kan 5 ribu satu. Dikali 4 ya 20 ribu. Pas lah buat kita,” jawab teman lainnya. Dara mencoba menolak lagi.
“Tapi a-aku belum sarapan.”
“Lah terus kenapa? Kita berempat juga belum makan siang. Udah-udah cepet beliin sana,” perintah satu orang tadi sambil sedikit menjauh. Dara mengambil tangan orang tadi dan memohon.
“Sarah please, aku belum makan dari tadi pagi,” Sarah menghempas kasar tangan Dara.
“Berisik, mau gua laporin ke ortu lu?” ancam Sarah yang sukses membuat Dara ketakutan.
“Enggak, jangan Sarah. Iya iya aku beli,” jawab Dara terbata-bata.
“Gitu dong dari tadi. Cepet, kita tunggu di meja biasa,” dan mereka berempat meninggalkan
Dara dengan wajah lesunya. Dara bergegas ke toko dengan papan besar bertuliskan ‘Warung Bu Sarmi’ dan memesan 4 mie goreng.
Setelah siap, Bu Sarmi memberikan semua pesanan Dara.
“Jadi 20 ribu ya bu?” tanya Dara masih terbata-bata.
“Iya Dara,'' jawab Bu Sarmi lembut. Dara hanya melihat ke arah kertas hijau yang didapatkan dari ayahnya dengan wajah tak rela.
“Kalau Dara ga punya uang gapapa kok, bu Sarmi juga lagi mau traktir orang,” ujar Bu Sarmi yang sedikit kasihan melihat Dara. Dara langsung menggeleng cepat dan memberikan uang itu pada Bu sarmi
“Enggak kok bu, Dara punya ua-“
“Pakai uang saya aja bu, sekalian beli mie gorengnya satu lagi buat Dara,” potong Bu Cahya sambil memberikan uang lembar 50 ribu pada Bu Sarmi.
“Loh, bu Cahya, gausah bu, saya punya uang pas kok,” sanggah Dara cepat.
“Udah, uang itu kamu tabung saja. Uangnya di sembunyikan dari mereka ya. Jangan bilang kalau ibu traktir kamu, nanti semuanya minta ibu yang traktir deh,” canda Bu Cahya diakhiri dengan kekehan kecil dari mulutnya. Dara yang melihat itu hanya mengangguk sambil beberapa kali menunduk, mengucapkan terimakasih bu’ berulang kali.
“Yasudah kasih mie goreng yang ini ke mereka, habis itu balik lagi ke sini ya. Nanti kalau mereka tanya ‘mau kemana?’ bilang aja mau ikut bu Cahya ke ruang BK,” lanjut Bu Cahya sembari duduk di salah satu meja yang tak jauh dari warung di depannya.
“O-oke bu, terima kasih bu,” lalu Dara berlari meninggalkan Bu Cahya.
Beberapa menit kemudian, Dara datang lagi dan duduk di meja Bu Cahya yang di depannya sudah di sediakan satu Mie goreng dengan telur mata sapi diatasnya.
“Nah, makan aja. Kalau mau tambah langsung bilang aja ke bu Sarmi, nanti ibu yang bayar,”
“Ibu yakin bu?”
“Yakin dong. Udah - udah makann yang banyak,”
“M-makasih banyak ibu,” Dara sedikit meneteskan air mata.
“Hey, kok nangis sih? Senyum dong,”
Dan Dara tersenyum sambil memakan makanan di depannya dengan lahap.
Seminggu kemudian, dengan waktu yang sama, yaitu waktu istirahat. Bosan dengan suasana kelas dan ruang BK, Bu Cahya berpindah ke perpustakaan kecil di lantai satu sekolahnya. Kebetulan ruangan itu cukup luas dengan 6 rak buku berjejer rapi. Ruang itu sedang sepi tak berpenghuni sejak ia datang. Oleh karena itu, inilah kesempatan baginya untuk membaca lanjutan dari novel yang ia beli kemarin di toko buku. Sangking asiknya, ia tak menyadari kalau sang perpustakaan sudah datang.
“Eh Bu Cahya. Lagi istirahat ta bu?” tanya Pak Sulis, sang perpustakaan tua dengan logat jawanya.
“Hahaha iya Pak Sulis. Kebetulan jadwal pelajaran BK saya cuman untuk kelas 8 saja,”
“Woah gitu toh bu. Ya sudah, saya juga ikut istirahat disini yo bu,” sambung Pak Sulis menuju mejanya.
“Silahkan Pak gapapa, sesantainya bapa saja. Ruang ini juga bapa yang punya kan,”
“Hahah iya juga ya Bu” jawab Pak Sulis sambil memulai kembali pekerjaannya di balas dengan tawa kecil dari Bu Cahya.
Bu cahya mulai kembali merasa bosan. Ia kemudian berkeliling di seluruh perpustakaan dan berhenti di daftar pengunjung perpustakaan ketika melihat nama yang ia familiar di buku itu.
“Loh, Dara sering datang ke sini ya Pak?” tanyanya agak terkejut.
“Oh iya bu, Dara sering banget datang kesini. Biasanya dia minjem komik-komik gitu Bu. Sekalian ngegambar disini juga” jawab Pak Sulis.
“Ah gitu, memang gambaran Dara bagus sih,”
“Iya Bu, kemarin saya lihat Dari gambar pemandangan bagus banget Bu. Saya aja kalah Bu, Saya dari dulu cuman bisa gambar dua gunung sama
matahari di tengah,” canda Pak Sulis dilanjutkan dengan gumaman kecil Pak Sulis.
“Saya heran, anak yang punya bakat gitu kok malah dilarang
mengasah bakatnya ya,” Pak Sulis menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih sibuk menulis.
“Loh memang kenapa pa?” tanya Bu Cahya pada Orang yang lebih tua dari nya itu
“Kalau alasannya saya ga tau Bu. Tapi pernah sekali, Dara keciduk menggambar disini sama ayahnya. Itu gambarnya sudah bagus-bagus malah disobek terus dibuang Bu. Saya ngeliat Dara kasihan banget. Nangis kenceng sambil minta maaf ke ayahnya,” jelas Pak Sulis sambil mengingat kembali. Bu Cahya agak kaget, lalu lanjut bertanya.
“Kok ayahnya gitu? Memang ayahnya Dara itu kerjanya apa Pak? Pemabuk? Penjudi? Kalau ibunya?”
“Bapaknya si Dara mah orang sukses Bu. Bukan pemabuk atau penjudi.
Punya usaha sendiri. Kalau ibunya buka salon di sebelah sana Bu, yang suka ramai di datengin orang itu loh bu. Istri sama anak saya kalau mau ngabisin uang saya ya pergi ke salon itu Bu. Makanya si Dara ga pernah nunggak uang sekolahnya. Dibayar satu tahun full sama orang tuanya,” jelas Pak Sulis diselingi sedikit candaan di dalamnya.
“Wah keren ya Pak,”
“Keren banget itu mah Bu. Itu penghasilannya aja udah berapa juta sebulan,” Bu Cahya mengangguk menyetujui Pak Sulis.
“Memang kenapa Bu? Kok sampai nanya orang tuanya Dara?” tanya Pak Sulis agak penasaran.
“Gini Pak, beberapa hari kemarin tuh Bu Yati bilang Dara menggambar pas pelajarannya. Terus saya panggil ke ruang BK. Dia nangis-nangis ke saya, minta supaya orang tuanya ga di panggil. Kemarin juga saya liat Dara diancam sama Sarah dan anak-anak lainnya. Kalau mereka ga dibeliin mie goreng nanti bakal dilaporkan ke bapanya. Jadi saya lumayan curiga sama orang tuanya gitu Pak.”
“Jadi kesimpulannya ibu mau nolong Dara gitu ya?”
“Nah betul Pak,” jawab Bu Cahya sembari mengangguk.
“Oalah, bagus tuh Bu. Saya dukung ibu. Tapi... hati-hati ya Bu,”
“Loh memang kenapa pa?” tanya Bu Cahya.
“Banyak guru-guru yang kena amuk sama orang tuanya Dara, cuman gara-gara bantu Dara. Terus guru juga sebisanya tidak ikut campur masalah rumah tangga siswa kan bu?” ingat Pak Sulis.
“Oh ya bener juga ya Pak. Terus saya harus gimana?” tanya Bu Cahya lesu mengingat peraturan para guru. Pak Sulis kemudian terdiam mencari ide untuk membantu Bu Cahya.
“Saya saranin mending ibu dorong Dara supaya dia berani bicara sendiri ke orang tuanya bu, lagian Dara kan anak satu satunya mereka, kemungkinan di dengar pasti 50-70% lah bu,” saran Pak Sulis.
“Eh bener juga ya Pak... Terimakasih sarannya Pak,” semangat Bu Cahya kembali terisi.
“Yo bu rapopo. Kalau perlu apa-apa ke saya aja juga gapapa kok bu. Saya pasti ada di perpustakaan,” Pak Sulis tersenyum pada Bu Cahya.
“Iya Pak. Terimakasih loh ya. Saya izin pergi ya pa,”
“Iya Bu,”
Jam pelajaran kini telah usai. Bu Cahya sedikit terlambat pulang lantaran tinggal sebentar di kelasnya untuk memperhatikan murid piket. Kini ia sedang berjalan ke arah parkiran, mengambil motor beat kesayangannya sampai ia melihat sosok siswi yang menunggu di dekat pos satpam sambil menengok kanan – kiri mencari seseorang. Bu Cahya langsung pergi ke siswi itu.
“Dara belum pulang?” tanyanya pelan. Dara yang ditanya menggelengkan kepala nya.
“Belum Bu, mungkin ayah saya agak telat jemput saya,” jawab Dara sedikit lesu.
“Oh ya sudah ibu numpang duduk disini ya,” jawab Bu Cahya mengambil tempat duduk di sebelah Dara.
“Silahkan Bu,” Jawab Dara disertai anggukkan kecil. Dan semua menjadi hening tak ada suara. Sampai berapa menit kemudian, Bu Cahya memulai pembicaraan.
“Dara ibu mau tanya,”
“Tanya apa bu?”
“Kamu ada masalah sama orang tua kamu?” Dara terdiam sebentar.
“...Sebenarnya ga ada sih Bu, orang tua saya sebenarnya orang tua yang baik. Saya sering diajak liburan, semua keinginan saya dipenuhi, bahkan
buktinya saya di sekolahkan di sini. Sekolah ini kan tergolong mahal Bu,” jelas Dara.
“Terus, kok kamu kayaknya takut banget sama orang tua kamu?” Dara kembali terdiam. Ia menunduk dan mulai memainkan jarinya.
“...Saya anak satu - satunya Bu, pasti orang tua saya berharap banyak sama saya. Jadi, orang tua saya mendidik saya supaya bisa jadi orang sukses Bu. Nanti saya harus mengambil alih usaha ayah sama ibu saya, makanya dari kecil saya sudah dididik lumayan keras. Semua nilai saya harus memuaskan, kalau misalnya ada satu yang nilainya jelek, saya bakal di caci maki sama orang tua saya. Saya juga tidak boleh melakukan hobi menggambar saya. Kata ayah saya, menggambar gak akan menjamin masa depan saya. Jadi lebih baik saya berhenti menggambar. Tapi mau bagaimana pun juga, menggambar cuman hobi satu-satunya saya Bu. Makanya saya agak tertekan kalau berada di rumah,”
“Ah gitu, Dara sudah coba bicara sama orang tua Dara?” Dara menggeleng cepat
“Saya takut Bu,”
“Belum coba, belum tau kan?”
“....” Dara diam – diam menyetujui apa yang dikatakan Bu Cahya.
“Coba Dara bicara sama orang tua Dara sekali aja. Kalau misalnya berhasil pengaruhnya kan bisa ke masa depan Dara iya kan?”
“Ta-tapi bu, orang tua Dara pasti ga bakal dengerin Dara,” jawab Dara.
“Dara yakin? Dara tau dari mana?” Bu Cahya bertanya kembali.
“Dara- ...” Dara terdiam, ia tak punya alasan lain lagi untuk menghindar. Bu Cahya menepuk pelan pundak Dara.
“Lagi pula Dara kan anak kesayangan orang tua Dara. Orang tua mana yang gak mau dengerin anaknya?”
Dara kembali beradu dengan pikiran dan hatinya. Pikirannya
berusaha mencari alasan supaya ia tidak usah repot – repot berbicara dengan
kedua orang tuanya. Sementara hatinya ingin supaya bebas dari tekanan yang ia rasakan selama bertahun – tahun.
“Gini deh, kalau Dara memang ga bisa, nanti Bu Cahya coba bantu Dara,” Lanjut Bu Cahya lembut.
“I-iya bu. Mungkin saya bakal coba saran ibu. Terimakasih ya bu,” jawab Dara bersamaan dengan mobil hitam yang masuk ke wilayah parkiran sekolah. Dara yang melihat siluet ayahnya dalam mobil langsung berdiri.
“Ibu, saya izin pamit pulang ya bu, ayah saya sudah sampai,”
“Ya, jangan lupa kerjakan PRnya ya,” jawab Bu Cahya dengan sedikit mengingatkan.
“Baik bu,” jawab Dara mulai menjauh dari pandangan Bu Cahya.
Esok paginya, Bu Cahya masuk ke wilayah sekolah dan memarkirkan motornya di tempat yang menurutnya aman. Ia kemudian membuka helm yang terpasang di kepalanya dan sibuk berkemas – kemas di motornya sampai teriakan dari seorang siswi mengejutkannya.
“Ibu! Bu Cahya!” Dara kembali berteriak dengan senyum yang terpampang jelas di wajahnya. Dara kemudian berlari ke arah Bu Cahya dengan membawa bingkisan kecil di tangannya.
“Selamat pagi Dara, semangat banget hari ini,” Balas Bu Cahya sambil tersenyum.
“Hahaha iya bu, kemarin setelah bicara panjang lebar sama orang tua saya, akhirnya orang tua saya paham. Saya diperbolehkan menggambar, asal bisa bagi waktu untuk belajar,”
“Tuhkan, sudah ibu bilang coba dulu. Coba bayangin kalau Dara ga ngelakuin itu kemarin, pasti menyesal seumur hidup,” Dara terkekeh sembari menggaruk pipinya.
“Nah sekarang, coba Dara mulai bersosialisasi sama temen sekelas Dara. Gausah terlalu susah, cukup bilang selamat pagi aja di depan kelas,” lanjut Bu Cahya dibalas dengan anggukan kecil dari Dara.
Kemudian Dara menyodorkan bingkisan yang ia bawa sedari tadi ke guru di depannya.
“Bu, ini sedikit dari saya sebagai ucapan terimakasih,”
“Loh buat apa Dara? Gausah repot – repot loh,”
“Nggak kok bu, saya ga merasa direpotkan kok,”
Dan bell sekolah berbunyi setelah itu membuat Dara tersadar dan langsung bersiap untuk pergi.
“Bu, saya duluan ya bu. Sekali lagi terimakasih banyak bu,” Kata Dara seraya berlari menuju tangga, dibalas dengan lambaian dari Bu Cahya yang tersenyum melihat Dara yang baru.
Sepuluh tahun berlalu, dan sekarang terlihat di sebuah studio rekaman TV TalkShow penuh dengan orang yang berlalu lalang. Banyak kamera yang menyorot pada satu ruang cukup besar, dengan dua wanita muda di dalamnya. Sekarang mereka melakukan sesi tanya jawab yang nanti akan dijawab langsung oleh Zefanya Darawati sebagai bintang tamu hari ini.
“Nah sekarang pertanyaan terakhir untuk Dara. Dari @arawawati ‘Ada ga orang spesial yang membuat ibu menjadi seniman sukses seperti ini’ ya silahkan di jawab Dara,”
Wanita yang ditanya berpikir sejenak, sampai ia mengingat sesuatu.
“Ya ada. Dulu saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, kalau ga salah saya sudah duduk di kelas 9. Ada guru BK baru yang baik banget. Dia membantu saya untuk keluar dari masalah, nemenin saya, bahkan suka traktir saya. Saya ga tau apa jadinya hidup saya kalau saja guru itu ga masuk dalam hidup saya.” Sang host terkejut.
“Gurunya suka traktir ya... baik banget gurunya. Guru saya mah dulu sukanya ngasih ulangan dadakan ngeri abiez. Eh eh, boleh atuh di ceritain sedikit tentang guru BK ini.”
“Hahahah iya, kalau saya inget – inget lagi masa lalu itu, rasanya ingin nangis. Dulu saya sempat dilarang menggambar atau melukis sama orang tua saya, saking stresnya, temen – temen di kelas saya ngejauhin saya. Saya malah dikatain aneh. Nah guru BK itu yang bantu saya mulai dari cara agar saya bisa meyakinkan orang tua saya sampai cara saya bersosialisasi. Sayang banget waktu itu saya sudah kelas 9, jadi ketemu sama guru BK itu cuman setahun.“
Sang host bertepuk tangan mendengar cerita dari bintang tamunya itu.
“Oh dulu pernah dianggap aneh sama temen sekelas ya. Keren gila! Eh eh, by the way, masih ingat ga sama nama guru BK itu bu? Bisa di spill dong,”
“Hahahha, kalau ga salah namanya itu... Bu Cahya.”
Nice, Cel... ini menjadi catatan pribadi buat saya 😉
BalasHapusKadang kita tidak mau melihat kedalaman (masalah), kenapa seorang anak (siswa) seperti itu (Dara).
Melihat kedalaman, dan mencoba mencari solusinya... kadang-kadang kita mudah nge-judje,,
Trimakasih sekali inspirasinya Cel. GANBATTE...
🤓🤝
yo ibu makasi :""
Hapuskeren banget OMGGGGGG
BalasHapusAYO BUAT CERITA YANG LAINNNN !!!!!!!
BalasHapusgasabar nunggu cerita yang lain OMG
BalasHapusASLIII INI PALING THE BESTTTT DARI PD YG LAIN !!!!
BalasHapussksks trimakasi bnyk2 <3
HapusAKU MAU SHARE CERITA INI KE TEMEN TEMEN KUUUU, ASLI KEREN
BalasHapusSERIUS INI DARI SLAMER?? OMG GA NYANGKA
BalasHapusSERIUS INI SLAMER??WOW, PASTI GURU GURU, NAK SLAMER BANGGA SAMA KM, AKU AJA YG BKN SLAMER BANGGA BANGETTT OMG
BalasHapusTop👍🏻👍🏻
BalasHapusKeren 👍🙏
BalasHapuscakep
BalasHapusDijadiin buku cerpen bisa kali awokwokwok 😂🙏
BalasHapuswkwkwk bisa bisa😂🙏
HapusGil sih kreatif bet 😃
BalasHapustrimsss <3
Hapusnicee broo
BalasHapuskerenn, semangat!!
BalasHapusthanks bgtt <3
HapusWOI KEREN BANGET
BalasHapusSMGT OM. i doain menang dah mksh smsm :F
BalasHapusiyo om makasi doanya :'
HapusSip
BalasHapussip
HapusKEREN BANGET, semangatt ell!
BalasHapustysmmm brooo :")
HapusWae sangat mengkeren
BalasHapuswae makasi om
Hapusom repa puny bakat ga tanggung tanggung euy. ngeri abiez
BalasHapusazek tengkyuu om <3
HapusKerenn👍
BalasHapusKerenn banget 👍🏻👍🏻
BalasHapusmangat el, bagus !
BalasHapustrims cyn :"
Hapusmangat kenshin <3
BalasHapusbtw tadi aku udah post di ch yak. mau lanjut hiat mbubyee.
BalasHapushiat lah dgn tenang 🧍
HapusWaw keren aslii, semangat teteh😍
BalasHapusiya trimakasii om/tante ����
HapusLuar biasa keren.. Mengikutin jejak orang tua ya teh? Tetap semangat maju terus yaa.. GBU
BalasHapusmakasih eee ma/pa.. 🧍
HapusLuar biasa keren boru tante pienk ini bah...semangat ya inang
BalasHapusmakasi tante pienk 🙏🙏
HapusMantap and keren....semangat terus 👍👍
BalasHapusiya trimakasiii
HapusKeponakan tante luise emang kece badai , top bgt kiranya terus mjd dampak bg generasimu rachel 😍
BalasHapusmakasi tanteee 🙏
Hapuswait... tadi saya dah komen kan bre? 🗿
BalasHapusiya keanya bro, kekirim dua kali td somri :v
HapusTerus berkarya dan semangat ya......
BalasHapustrimakasi tantee <3
HapusOmmmmm sy dah bisa komen Om yey,btw ceritanya bagus om wah 😮keponakan tante luise keren bat ya om,cerita nya keren + kece badai salju om,wahhhh apa ya om?keren aja om + kece aja deh om,intinya semangat om <3 (tapi om,sy masih lurus ya om :)
BalasHapusAww bye byee om uwu mangat lagi om
-BOOM BOOM CAR!!
yaallah, pulang km om pulang 🧍
HapusBOOM BOOM CAR!!
HapusCara pulang gimana om?
HapusBOOM BOOM CAR!!
Hapusngk tau om ko tny sy🧍
HapusOk saya first time komen y el?, baguss dan saya baru baca setengaj terlalu panjang, keren emg teman saya yabg satu ini
BalasHapussksks ini pst okta sie. makasi taaa. moga kita menang sm2 <3
HapusKEREN NGAB
BalasHapusTENGKYOO
Hapussmgt noy, cpt ngebot lg. ud 1 bln g ngebot kami prustasi
BalasHapusklo ud slesai hiat lgsg bc buru
BalasHapusmff i mo perpanjang hiat ken 🧍
Hapusueyyy mangat noyaa btw BHAKS SI KEN HHAHHAHA
BalasHapusikr- 🧍
Hapusbtw(2) cie face reveal. paasti bentr lg heigh reveal. gw tebak pasti tingginya se-noya beneran :DD
BalasHapusdrpd u setinggi yachi doang say 🧍
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSemangat rachell
BalasHapusokie trimakasiii
Hapussy memberi semangat utk kedua kalinya
BalasHapusueue makasi beb lope
HapusWajib pa edi tunggu karya terbarunya.
BalasHapusDjosgandoskanlah
ueue tengkyu pa. salam djosgandoskanlah🧍
Hapussemangat om aaaa
BalasHapusjujur w baca lagi ni cerpen klo gabut :D
BalasHapussoalnya si Dara mirip sama w jugak :"""
Hapusmangat beb, u can do it <3
HapusSemangat rachell.....
BalasHapusyok sabi juara sabi
BalasHapusKeren euy👍🏻
BalasHapuskecee bagus bangettttttt
BalasHapussmgt
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusgg
BalasHapusmantep
BalasHapusmantap jiwa
BalasHapus💪💪
BalasHapusKeren kali bro nnti saya undang anda ke podcast saya
BalasHapusaaaa plis
BalasHapustanggung amat tinggal 4 komen bisa 90 :"
BalasHapusroah
BalasHapusTYPO byesj.
HapusBAHAHAHA kecee
Hapusmakasie smsm :v
BalasHapusgambare gambare kenshin !!
BalasHapussemoga bisa tidur dengan nyenyakkk :>
BalasHapus