Polaris Milik Elise
Setiap kata yang tertulis di sini dirangkai oleh Sachiko Tamma. Selamat menjelajahi kelana waktu yang didasari oleh senandika kepunyaannya, serta kepingan memori yang tidak pernah luput dari padanya.
Bagian satu; Keributan.
“Kamu yang mulai!” Suasana di dalam kelas delapan itu sangat ricuh. Elise— anak nakal di kelas tentu saja sudah menjadi tersangka utama dalam kejadian curi-mencuri ini.
“Apa sih, aku kan dari tadi cuma diem. Kalian nggak jelas banget jadi orang, asal nuduh,” hardik Elise cepat. Sejak kelas empat sekolah dasar, anak itu selalu lalai. Baik di dalam tugas maupun peraturan. Ya, memang dengan hal-hal itu Elise menjadi dikenal oleh satu angkatan, atau mungkin lebih.
“Kenapa ini?” Ah … itu Bu Anna. Wali kelas mereka.
“Dia nyuri uang milik Lucy, Bu,” teriak salah satu murid di kelas yang sama dengan Elise. Setelah mendengar sahutan itu, seluruh kelas mengiyakan pernyataan tidak berdasar yang diberikan oleh beberapa murid karena Elise selalu menjadi alasan utama guru mereka memulai nasihatnya di awal jam pelajaran. Anak-anak seperti Elise memang harus diberi teguran, tapi tentu saja tidak seperti ini. Yang salah, memang salah. Yang benar pun juga tetap harus menjadi benar.
“Betul, Elise?” By Anna bertanya kepada Elise.
“Enggak. Aku nggak pernah mencuri, Bu.”
“Bohong itu, Bu! Tadi uangnya ada di tas Elise!” Lagi-lagi seperti ini.
“Elise, ikut Ibu ke kantor, ya,” final Bu Anna. Pastinya akan tambah ricuh jika membiarkan Elise tetap di dalam kelas.
“Kenapa mereka memasukkan uangnya di tas kamu, ya, El?” Masih dengan Bu Anna, hanya saja di tempat yang berbeda. Elise dan Bu Anna baru saja melihat rekaman CCTV yang terdapat pada kelas Elise. Setiap kelas memang dilengkapi dengan CCTV. Waspada bila hal-hal seperti ini terjadi.
“Nggak tahu, Bu. Aku baru dari toilet, di kelas udah pada ricuh.” Elise berbicara jujur. Memang seperti itu. Saat Elise datang, seluruh teman-teman kelasnya menuduhnya mengambil uang milik Lucy— salah satu teman di kelasnya juga.
“Ya sudah. Toh, kamu memang nggak mencuri. Teman-teman kamu yang memang memasukkan uangnya ke tas kamu. Nanti, Ibu akan suruh mereka untuk minta maaf. Ibu juga minta maaf, ya?” Juga, di dalam rekaman CCTV itu berisi bukti yang mengarah kepada teman-teman sekelasnya. Entah mereka tidak tahu, tidak sadar, atau lupa bahwa pada setiap kelas sudah dilengkapi dengan CCTV. Elise bahkan terlalu malas untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
“Nggak usah minta maaf buat hal yang nggak dilakukan, Bu.”
“Tetap aja. Ibu merasa bersalah ke kamu, El.”
“Terima kasih untuk itu. Makasih udah mau percaya ke El, ya, Bu,” cicit Elise. Di saat seperti ini, mencari orang yang percaya kepadanya merupakan hal yang agak susah. Terutama di kelasnya.
“Sama-sama. Mau ke kelas sekarang atau nanti aja?” Bu Anna menawarkan, ia berpikir mungkin Elise masih membutuhkan waktu untuk menemui teman-temannya. Tapi pikiran itu terpaksa untuk dihentikan karena Elise yang ternyata mau-mau saja saat ditawarkan untuk kembali ke kelas.
“Jeremy, Jessica, Claire, Sean, Aluna, kenapa memasukkan uang milik Lucy ke dalam tas Elise?”
“Hah? Nggak kok, Bu. Elise kan memang mencuri?” Sean menjadi anak pertama yang menyangkal perbuatan mereka. Disusul Aluna yang mengiyakan jawaban teman laki-lakinya— Sean. Sedangkan Claire yang berdiri di paling ujung di antara mereka mulai menyadari sesuatu. CCTV-nya. Bodoh. Bagaimana bisa mereka melewatkan hal sepenting ini. Claire langsung menyenggol bahu Jessica yang berdiri di sebelahnya, lalu menunjuk CCTV dengan matanya. Jessica yang pada dasarnya cepat tanggap, langsung mengerti. Ia merutuki dirinya yang malah masuk ke dalam masalah karena ulahnya. Habis dia. Benar-benar habis. Tentu saja sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua orangtua Jessica adalah tipe orangtua yang ketat— dan jika melihat tingkah putri tunggal mereka yang seperti ini, Jessica akan benar-benar habis.
“Pulang sekolah, kalian ke kantor Ibu dulu.”
Bagian dua; Hujan.
Hujan. Diam-diam Elise merutuki dirinya sendiri— atau mungkin sedih karena terlambat dijemput. Sekarang sudah jam tiga sore, dan hujan. Tadi pagi, suasananya masih terang, tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya hujan, jadi anak itu tidak membawa payung. Seharusnya yang menjemput Elise sekarang adalah ayahnya yang tidak tahu di mana. Seharusnya pula, ia meninggalkan sekolah sejak pukul satu lebih sepuluh menit.
Untungnya guru-guru belum pulang. Walaupun siswa yang lain sudah pulang ... ya, setidaknya ia tidak benar-benar sendirian di sekolah ini sampai sore. Ayahnya itu memang pelupa. Tadi, Elise sudah menelepon ayah dan ibunya melalui telepon sekolah tetapi tidak diangkat. Ia tebak, ayahnya pasti sedang tidur, kalau ibunya ... kemungkinan besar habis baterai atau lupa membawa ponsel saat berpergian. Tertebak sekali.
Ah! Betul juga. Sebelum Elise berangkat sekolah, ibunya bilang, ia akan mengunjungi rumah saudaranya yang berada di luar kota karena salah satu dari mereka sakit. Mungkin, ibunya kira ia sudah dijemput oleh sang ayah. Jika ingin menelepon orang lain, rasanya susah. Ia hanya mengingat nomor telepon milik ayah dan ibunya.
"Belum dijemput juga, El?" Suara Bu Anna memecahkan lamunan Elise. Yang ditanya hanya mengangguk pelan, menatap ke arah jalan raya yang diguyur hujan.
“Mau pulang sama Ibu? Ini udah sore sekali, El. Nanti Ibu yang bicara sama orangtua kamu, ya. Hujan. Kamu bawa payung?”
“Enggak, Bu. Tapi … boleh aku coba telepon sekali lagi?” Mendengar hal itu, Bu Anna langsung tahu ke mana arah pembahasan ini. Elise ingin meminjam ponselnya untuk menelepon orangtuanya.
“Ini.” Bu Anna memberikan ponselnya kepada Elise.
“Makasih, Bu.”
Melihat raut wajah Elise dan teleponnya yang tidak ada tanda-tanda akan diangkat, Bu Anna menawarkan lagi tawarannya yang tadi. Dan mau tidak mau, Elise mengiyakan. Ia tidak diberi uang jajan karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah matematika. Elise tidak membantah, ia sungguh-sungguh tidak mengerjakan. Selain karena soalnya yang tidak mudah, Elise memiliki prinsip “Ya sudah, memangnya mau gimana lagi”. Prinsip itu benar-benar tidak bisa dihilangkan dari dirinya— setidaknya untuk sekarang. Jadi, ya, belum apa-apa, Elise sudah menyerah dan memilih untuk tidak mengerjakan.
“Tunggu di sini. Ibu ambilkan helm untuk kamu dulu.” Tanpa menunggu jawaban Elise, Bu Anna langsung berjalan menuju kantor guru. Biasanya, paling tidak ada helm lain yang tersedia. Awalnya, Bu Anna mencoba mencari helm dengan ukuran yang pas dengan Elise. Namun, sayangnya tidak ada. Enggan membiarkan Elise menunggu lama, ia hanya mengambil helm yang ada saja. Daripada tidak memakai helm sama sekali, itu akan tambah beresiko. Oh! Bu Anna juga mengambil jas hujan dengan model ponco miliknya. Karena badan Elise yang agak kecil, ia meyakini bahwa Elise akan terlindungi dari hujan saat memakai jas hujan tersebut. Ya, walaupun dipakai satu untuk berdua.
“Dipakai, ya.” Dengan begitu, Bu Anna menyerahkan helm yang sudah ia ambilkan untuk Elise.
“Terima kasih, Bu.”
“Iya, sama-sama. Jas hujannya satu untuk berdua, nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Bu. Makasih banyak.”
“Alamat rumah kamu masih sama dengan yang ada di data yang kamu isi awal semester, ‘kan?” Sesudah melihat Elise mengangguk, Bu Anna kemudian membuka ponselnya. Memang, ada beberapa data siswa yang ia salin di ponsel.
“Oke. Kita berangkat.”
Sampai. Setelah bergelut dengan hujan dan kemacetan selama empat puluh lima menit, akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah milik Elise. Sepi. Tebakannya benar, ayah Elise memang sedang tertidur sejak beberapa jam yang lalu.
“Permisi,” south By Anna.
Beberapa kali Bu Anna dan Elise memanggil-manggil orang yang ada di rumah. Masalah utamanya, mereka sudah benar-benar ada di depan pintu. Dan pintunya terkunci. Ya … sebenarnya memang lebih baik saat mengetahui pintunya masih dikunci daripada tidak. Setidaknya, ayah Elise tidak seceroboh itu.
Akhirnya pintu terbuka, sosok yang pertama kali Elise lihat adalah ayahnya dengan kaos santai dan celana pendek kesukaan ayahnya. Jangan lupakan wajahnya yang masih mengantuk.
“Lho, Elise?” Pria berusia kurang dari lima puluh tahun itu segera melihat jam dinding yang berada di ruang tamu.
“Aduh, maafin Papa. Papa lupa harus jemput kamu.” Pandangannya beralih ke Bu Anna yang masih memakai jas hujannya. “Ini Bu Anna, ‘kan? Bu, terima kasih, ya. Maaf saya merepotkan.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Mau masuk dulu nggak, Bu?” tanya Elise melihat setengah dari setengah celana yang dikenakan oleh Bu Anna basah terkena air hujan.’
“Nggak usah. Kamu jangan lupa makan, ya, Elise. Saya duluan, Pak.”
Bagian tiga; Mama.
“El, sini ikut Ibu,” celetuk Bu Anna yang dapat membuat keheningan di dalam kelas yang Elise tempati karena jam kosong. Di belakangnya, Elise melihat kepala sekolah mereka yang memandangnya sendu. Tunggu— ini ada apa? Yang bisa ia lakukan adalah mengikuti dua guru yang menjabat di sekolahnya. Walaupun penasaran, Elise memilih tidak bertanya.
Elise dapat melihat dengan jelas saat Bu Anna dan Bu Lany mencoba menghubungi seseorang sambil terus menatapnya cemas.
“Ini Elise-nya, sudah bisa langsung berbicara saja,” ujar Bu Lanny setelah telepon tersambung. Ini … nomor ayahnya, ‘kan?
“Iya, Pa?”
“Mama tadi kecelakaan. Udah nggak ada saat mau dibawa ke rumah sakit.” Demi apapun, rasanya dia bahkan sudah tidak sanggup untuk berdiri.
“Maafin Papa, ya.” Jelas sekali bahwa ayahnya itu sedang menangis.
“Nggak perlu minta maaf buat hal yang nggak Papa lakukan. Sekarang Mama di mana?”
“Di rumah sakit. Nanti Papa jemput ke sana. Tadi juga sudah izin ke guru kamu. Tinggal beres-beres aja. Tunggu, ya?” Elise bergumam, lalu ia melihat kembali layar ponsel yang menunjukkan bahwa sambungan telah terputus. Sadar atau tidak, Elise menangis. Anak itu sempat menatap dua guru yang berada di hadapannya sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kelas dan memasukkan seluruh barang-barang yang ada di luar jangkauan tasnya. Segera, Elise kembali ke kantor guru— mengabaikan seluruh atensi yang sekarang terpusat padanya.
Elise sudah menangis di ruang guru selama lebih dari lima belas menit. Ayahnya belum datang, dan menerima fakta bahwa sang ibu sudah tidak ada bersamanya itu terlalu sulit. Bahkan, kemarin malam mereka berdua masih makan malam bersama, bergurau, dan sekarang sudah begini.
“Ibu nggak tahu persis apa yang kamu rasakan sekarang, tapi kamu nggak harus selalu kelihatan baik-baik saja, kok. Kamu bisa nangis lebih puas setelah ini. Perihal mengikhlaskan itu setelah kamu bisa berdamai sama diri kamu sendiri. Kalau memang belum bisa, nggak usah dipaksakan. Semua hal itu butuh proses, ‘kan?” Bu Anna memang ahli di dalam hal yang seperti ini.
“Makasih banyak, Bu.”
“Sudah dijemput,” bisik Bu Lany kepada Bu Anna. Tidak lama sesudah itu, ayah dari Elise sampai di ruang guru. Ia dapat melihat jelas Elise yang menyeka air mata terus-menerus.
“Elise? Ayo. Terima kasih, ya, Bu Anna, Bu Lany.”
“Iya, Pak. Kami mengucapkan turut berduka cita, ya.”
Bagian empat; Kelulusan.
Setelah tiga tahun berada di sekolah menengah pertama, akhirnya Elise dan teman-teman satu angkatannya lulus. Wajah bahagia dari ayahnya menjadi pusat arah pandangan Elise sepanjang acara kelulusan ini. Ayahnya yang tetap tersenyum walaupun nilainya tidak sempurna, ayahnya yang pelupa, ayahnya yang penyayang. Iya, ayahnya yang itu. Jika bisa, Elise ingin sekali memamerkan kepada dunia bahwa itu ayahnya. Ayahnya yang hebat.
“Pa! Ayo foto bareng,” ajak Elise antusias.
“Ayo-ayo.”
Selesai acara foto-foto, Elise melihat Bu Anna lewat. Sedari tadi, dia ingin sekali bertemu Bu Anna untuk mengucapkan terima kasih. Tapi waktunya selalu tidak pas. Tanpa berpikir panjang, Elise melewati kerumunan orang dan mengejar Bu Anna.
“Bu Anna!” panggil Elise.
“Oh— hai, Elise! Selamat, ya, buat kelulusanmu!”
“Terima kasih banyak, Bu. Ini juga berkat Ibu. Makasih, makasih banyak.” Elise bahkan hamper menangis sekarang. Tapi, sungguh … Bu Anna mengambil peran penting di masa sekolah menengah pertamanya ini.
“Terima kasih kembali. Semoga nanti kamu bisa betah, ya, di SMA. Semangat!”
Bagian lima; Pusara.
Sudah enam tahun sejak aku kenal sama Bu Anna dengan baik. Aku sebentar lagi akan berkunjung ke tempatnya. Jika kalian tidak keberatan, mungkin mendengarkan sepotong kisahku, tidak masalah, ‘kan?
Ibu Anna itu guru paling baik yang pernah aku temui. Maksudnya— guru lain juga banyak sekali yang bersifat baik. Tapi … Bu Anna memang punya tempat sendiri di hatiku. Jika kalian sudah ada di sini, artinya kalian sudah membaca beberapa ceritaku yang terdapat Bu Anna di dalamnya. Jadi, bagaimana? Bagaimana tanggapan kalian tentang wali kelasku saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, lebih tepatnya saat aku ada di kelas delapan. Selama ini, aku selalu memiliki sudut pandang yang baik tentangnya. Selalu baik. Dia guru yang benar-benar teladan. Walau aku kadang dapat teguran dari beliau, tapi itu memang salahku. Sesungguhnya, membicarakan diriku saat berada di kelas delapan, agak membuatku kesal terhadap diri sendiri. Aku punya orangtua yang baik, guru pun rata-rata baik. Ah … yang tidak baik hanya perilaku milikku saat itu dan teman sekelasku. Serius, aku pun masih sering mengasihani diriku di masa lalu.
Bu Anna pernah bilang begini, “Perihal mengikhlaskan itu setelah kamu bisa berdamai sama diri kamu sendiri.” Aku harus mengalami fase berdamai dengan diri sendiri untuk yang kedua kalinya. Bukan, bukan keluargaku yang pergi. Tapi, Bu Anna. Delapan bulan yang lalu, dia pernah membicarakan soal penyakit kanker payudara yang sudah ia derita selama dua tahun. Bagaimana pun, aku kagum dengan Bu Anna, hebat sekali bisa bertahan dua tahun. Tapi, ya, tetap saja. Terkadang aku bosan dengan yang namanya mengikhlaskan. Cepat atau lambat, mengikhlaskan itu perlu bagi diriku sendiri. Aku sebenarnya agak membenci fakta itu, walaupun mengikhlaskan tidak selalu perihal kehilangan. Kehilangan juga tidak bisa harus dipaksakan dengan mengikhlaskan. Mengikhlaskan itu pilihan setiap orang. Dan aku termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang memilih untuk ikhlas. Susah sekali. Saat kejadian Mama, aku pernah berusaha untuk lepas, lepas dari semuanya. Tapi hasilnya tidak ada. Hanya tambah menyusahkan pikiranku sendiri. Saat itu memang benar-benar saat di mana aku harus mencoba hal baru di hidupku— mengikhlaskan.
Saat ini pun sama. Aku harus berusaha belajar perihal mengikhlaskan yang disebabkan oleh kehilangan, lagi. Bu Anna pergi sekitar tiga bulan yang lalu. Aku tetap menangis di rumah duka, tepat seperti yang pernah ia katakan, “Kamu nggak harus selalu kelihatan baik-baik saja, kok. Kamu bisa menangis.” Karena, ya, saat itu aku memang tidak baik-baik saja. Sama sekali tidak. Dan sekarang, aku sedang belajar mengikhlaskan. Rasanya lebih ringan dari keadaanku tiga bulan yang lalu.
Mungkin banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan kepada Bu Anna. Namun, karena terbatasnya waktu, aku tidak sempat menyampaikan yang ingin aku sampaikan. Aku akan tulis di sini. Bu Anna nggak akan bisa lihat ini, tapi aku pengen banget punya kesempatan untuk mengungkapkan ini.
Yang utama, aku ingin dia hidup dengan baik. Aku mau Bu Anna selalu bahagia. Bu Anna nggak pantas buat dapat kejahatan yang ada di dunia ini. Aku mau lindungi dia dari semua jahatnya dunia. Sayangnya, aku nggak bisa. Yang aku bisa lakukan itu, ya, mendekapmu. Aku bersyukur sekali karena masih diberi kesempatan untuk mendekap Bu Anna.
Aku sempat bertanya-tanya, kenapa Tuhan jemput Mama dan Bu Anna duluan? Aku bertanya tentang hal yang sebenarnya sudah ada jawaban jelasnya. Karena mereka baik. Aku dan yang lain di dunia ini mungkin sayang sekali sama mereka, tapi Tuhan lebih sayang mereka. Itu salah satu landasan aku untuk belajar mengikhlaskan. Mereka itu disayang Tuhan. Toh, bagus, ‘kan? Iya. Aku sendiri akan menjawab iya untuk pertanyaan yang satu ini, tanpa ragu.
Semoga Bu Anna suka dengan bunganya, aku pamit dulu, ya.
Selesai.
BAGUSSS BANGETT CERPEENNYAA
BalasHapusTerus berkarya Sachi... semoga kelak bisa jadi penulis handal yahhhh ๐๐
BalasHapusTerus berkarya yaa jangan berhenti di tengah jalan soalnya cerpen nya bagus banget ! ceritanya menarik! semangat yaa nulis nyaa!
BalasHapusKERENNN CERITANYAA, SEMANGAT TERUS YAAA
BalasHapusKERENNNN, SEMANGAT TERUS KAK SACHHH๐๐๐
BalasHapusbagus banget cerpennya! semangat terus berkaryanya, ya!
BalasHapusKerens. Berbakat. Teruslah berkarya๐
BalasHapusKerens. Ditunggu karya selanjutnya ๐
BalasHapusBagus banget. Suka sekali
BalasHapuskeren banget tulisannya, terus berkarya!!
BalasHapusbagus banget hihi, semangat yaa buat karya kedepannya :D
BalasHapusBagus bangett karyanya! Teruskan berkarya, ya.
BalasHapusHebat sachii.. Semangat untuk terus berkarya yaa, dan semoga sukses selalu
BalasHapusKeereeeennn sachi..... Sukses ya... ๐๐
BalasHapusCeritanya ngalirrr.. keren, berbakat ini mah.
BalasHapusAlur cerita cerpen'y tertata dengan sangat baik...penggunaan kaimat'y pun sangat relevan...cerita'y sangat mudah d'mengerti dan dapat dibaca dengan baik oleh semua kalangan...tetap semangat dan teruslah berkarya dengan tulisan2 cerita terbaik...semoga sukses selalu yaa Sachi ๐๐ค๐❤
BalasHapusWow kereeen s
BalasHapusKeren Sachi..terus berkaya๐
BalasHapuskereeeen bangetttt
BalasHapusKEREEEEN BANGEEETTT SACHI LOVEEE ♡____♡
BalasHapusHebat kerrreeeeeeeennnn Sachi ๐คฉ terus berkarya makin berbakat n sukses ๐ค
BalasHapusKERENNN, SEMANGAT ACHIII
BalasHapusKECE BGT :"" SMGT DEK !
BalasHapusAAAAAA CAKEP BANGETT MASIH GAK NYANGKA HUHUUU, GOOD LUCK YAA SACHIII <3333
BalasHapusCeritanya bikin emosi jadi naik turun semacam gelombang laut ketika musim hujan. aUTO BIKIN BAPER.
BalasHapusDjosgandoskanlah--
Di tunggu yah kak, karya terbarunya.
CHIII YA ALLAH BENERAN LO KEREN BANGET GUE KAYAKNYA KALAH SAMA LO GILA SEMANGATT CHIKUUUU SAYANGGGG
BalasHapusSemangat dekkk, jangan putus asa dek, jangan menyerah dek
BalasHapusOtak~~~
BAGUSS BANGETT CERITANYAA๐คฉ๐คฉ
BalasHapusSEMANGATT TERUS YAA!!
BalasHapusWahhh baguss bangett gilaaa๐ฅฐ๐ญ๐ญ
BalasHapusBAGUS BANGET. KEREN BANGET. SEMANGAT TERUS ๐ช๐ช๐ช
BalasHapusalurnya bagus banget, dari bahasanya juga mudah dipahami samaaa baguss, keren sachi, SUKSES TERUS SACHI <3 <3
BalasHapusIni ceritanya bener-bener bagus banget, keren bangettt! POKOKNYA INI BENER-BENER INDAH BGT GATAU LAGI AAAAAA, SEMANGAATTT TERUSSS YAAA!! SUKSES SELALUU :D
BalasHapusCeritanya keren, hikmahnya juga dapet banget, bahasanya gampang dipahami, pokonya bagus banget ceritanya, aku sukaaaa ๐ญ๐
BalasHapusSemangat, Sachi >3<
SACHIII KEREN BANGET CERPEN NYA..... AKU SUKA BANGETT....SUKSES SACHII LUVV
BalasHapuskeren banget gaboong
BalasHapusKeren banget tulisannya❤bagus. Kalimatnya tersusun dengan rapih dan indah❤๐๐ป Narasi yang tidak berbelit belit dan mudah untuk di pahami๐ฅฐ Semoga keesokan harinya bisa menjadi penulis yang terkenal๐๐ป Semangatt sachii tamma❤
BalasHapusCeritanya bagusss.. ❤
BalasHapusBtw semangat sachiii ๐ช๐ช
Bagus banget cerpen nya semangat terus ya sac berkarya
BalasHapusSEMANGAT SACHIII ๐
BalasHapusCERITANYA BAGUSS BAGET APA LAGI WAKTU DIBACA PAS WAKTU LUANG
KERENN...
CERPEN NYAA PLSS BAGUSS BANGETTT๐ป, SEMANGATT CHIIII!!! ๐ค
BalasHapusCERPENNYA BAGUS BGTT!!!!! KERENNNN, semangatt terus sachi, semoga bisa jd penulis yg handal yaa hehehehe
BalasHapusAaaaa ceritanya bagus bangeettt>< diksi sama alurnya bagus bangeett!! KEREENNN SACHIII!! SEMANGAT TERUSSS YAAA CHIII!! ๐๐
BalasHapusKEREN BANGEETTTT CHIIII><❤️❤️
BalasHapusAAAA TAMMA CERITANYAA KEREN BANGETT, SEMANGATT NULISNYAA������
BalasHapusKeren bgt kakk tamma๐ฉ๐ฉ๐
BalasHapusWAAA KERENN SEMANGAT YAA
BalasHapusKeren bangettttttttt baru nemuin cerpen yang bagus giniiiii kerennn ngefeel dan bagusss banget pokonyaa, alurnya ga terduga dan bisa keren banget!!!! Semangat teruss ini serius ini keren bgt!!!!!
BalasHapusWaaaa keren bangett Sachiiiii, smoga kelak jadi penulis handal yaa, banyak karyanya, ditunggu hasil cerpen selanjutnya ๐๐๐
BalasHapusPenulisan cerpennya bagus euy, ceritanya juga menarik ga bertele-tele. Keren adique
BalasHapusIchh.. gak nyangka bisa buat cerpen sebagus itu ๐
BalasHapusLanjutkn bakatmu semoga kelak bisa menjadi penulis yg hebat ! Semangat ya Sachi ๐ช๐ช
Cerita runtut, bahasanya juga mudah dipahami, lanjutkan sachi
BalasHapusHuaaa semangat ya cantik!! Yuk kqlamu bisa yuk
BalasHapusCERITANYA BAGUSS BANGET, BAHASANYA JUGA BAGUS DAN MUDAH DIPAHAMI, SEMANGAT TAMMA
BalasHapus