Penyemangat Tak Terduga

“TUJUAN SEORANG GURU BUKANLAH MENCIPTAKAN SISWA-SISWANYA MENURUT PANDANGANNYA, TAPI MENGEMBANGKAN SISWANYA YANG MAMPU MENCIPTAKAN PANDANGAN MEREKA SENDIRI”



Jam menunjukan pukul 06.30 pagi. Ishh, rasanya malas banget buat beranjak dari kasur dan berangkat sekolah. Tia siswa kelas 9 SMP sekarang sedang menghadapi tugas tugas yang begitu rumit untuk menghadapi ujian sekolah. Tia itu sebenarnya anak yang pemalas, dan tak begitu pintar. Ilmu Pengetahuan Alam. Demi apapun, dia sangat benci pelajaran itu. Namanya selalu tercoreng dalam setiap review tugas yang diberikan oleh guru, terutama dalam pelajaran IPA. Saat teman temannya sudah selesai mengerjakan semua tugas tugasnya, ia baru menyelesaikan setengah dari semua tugas tugasnya. Padahal deadlinenya tinggal satu hari lagi untuk menyelesaikan semua tugas tugas sekolah bagi siswa yang belum. 

Ini semua karena Pak Budi, ya. Pak Budi adalah guru pelajaran IPA, sekaligus guru yang paling dibencinya. Sebenarnya Pak Budi orangnya bersahaja, namun tegas dan tak segan segan mengolok olok muridnya di depan umum. 

Semua ini berawal dari suatu hari yang buruk itu..

“Hei Tia! Kenapa kamu tengok-tengok ke belakang? Kamu mau nyontek ya?” bentak Pak Budi.

“Engga pak, saya cuman mau minjem pulpen pak” alasan Tia

“Alasan saja kamu, mana jawabanmu hah?, sini berikan ke bapak !”

Seketika Pak Budi langsung nyoret nyoret dan merobek robek kertas ulangan Tia. Tia hanya bisa tertunduk malu

“Pa, kenapa jawaban saya di sobek pa?” ujar Tia sedikit tegas.

“Saya lebih menyukai nilai jelek dari pada tidak jujur seperti kamu!” bentak Pak Budi.

“Kan saya cuman minjem pulpen pak, ada yang salah emang pak?” Tia sedikit berteriak

“Heh tia, ini kan LJK, gabisa pakai pulpen! Kenapa kamu harus minjem pulpen? Otakmu dimana? Logika mu taro dimana hah? Sekarang apalagi alasanmu Tia?” kata Pak Budi dengan sangat tegas. 

Tia hanya bisa tertunduk. Dipermalukan didepan seluruh teman temannya. Ia menyimpan dendam pada guru IPA itu..

“Silakan keluar kamu Tia, kamu ulangan ulang besok, siapkan alat tulismu sendiri”

Tia keluar dengan perasaan marah. Pak Budi menatapnya dengan pandangan tegas, senyum tipis terlihat di bibirnya.

Tia sangat buruk dalam pelajaran IPA, termasuk bagian fisika. Nilainya tak pernah sepenuhnya bagus dibandingkan mata pelajaran lain, walaupun sama buruknya.

Esok harinya, Tia terburu buru karena jam di HP nya menunjukan pukul 06.50, sehingga ia pergi tanpa sarapan terlebih dahulu, ini biasa terjadi pada Tia. Untungnya dia selalu pas sampai sekolah saat bel berbunyi karena memang jarak rumah Tia ke sekolah tak begitu jauh. Ia segera menuju ke kelas.

Kesel banget, jam kedua tibaa.. pelajarannya pak Budi, terpikir dalam hati. Dia ingin sekali membolos pada jam kedua ini, tapi ia tak berani karena dia tau sikap guru nya seperti apa..

“Pagi pak”

“Ya, selamat pagi.. gimana tugas tugasmu, sudah selesai semua? Apakah kamu juga sudah mempelajari materi fisika untuk bahan ulangan ulang hari ini tia?”

“Tugas tugas tinggal sedikit lagi pak yang belum saya selesaikan, saya belum sempat mempelajari materinya juga pak karena semalam terlalu sibuk mengerjakan tugas tugas yang belum selesai pak, lagian juga materinya banyak sekali pak”

“Astaga tia…tia, kamu harus pintar membagi bagi waktumu sendiri. Materi sudah saya berikan semuanya, tinggal kamu yang harus bijak memahami materi dan objeknya. Saya nggak mau tau, pokoknya besok kamu harus sudah memahami semua materi materinya untuk ulangan ulang besok” kata pak Budi dalam satu tarikan nafas.

“Itu nggak mungkin pak” semangatnya sekolah yang sudah turun, tambah drastis.

Di kantin, Tia curhat masalah fisika ini pada Monica, teman dekatnya.

“Gila, besok harus sudah paham semua materi fisikanya dari pak Budi, itu banyak banget.. cuman dikasih waktu 1 hari doang dong..”

“Nggak berperikemanusiaan banget” kata monica.

“Emang sialan si Budi” Kata Tia, lagi lagi menyindir.

“Woy.. Pak Budi, pakai pak” kata bu pedro penjual kantin di sekolahnya

“Lah, emang saya peduli bu”..

“Tia.. mending lo buat kunci jawaban aja, terus lo taruh tuh didalam kotak pensil.. saat pak budi lagi fokus fokusnya sama pelajaran, kamu bisa contek tuh dikit dikit”

“Aslinya kemarin aku kepikiran kayak gitu sih, tapi takutnya aku tercyduk dan ngalamin hal kayak kemarin lagi, kan ga lucu”

“Yaelah, masih mikir itu aja.. yang penting mah beres. Gak ada tanggungan. Aku aja sering kok kayak gitu, ga keliatan tuh, tetap diterima juga hehe”

“Kok bisa sih” Tia agak tidak terima.

“Entah tuh Bu Fitri, ngajar juga jarang, apalagi ngurus ulangan kayak gini.. yaa tinggal dinilai selesai deh”

“Enak banget, tapi sih moon…”

“Tapi apalagi siii” 

“Itu ga jujur dong Namanya. Aku udah diomelin Pak Budi waktu ngerjain LJK waktu itu, kalau misalnya ketauan boong lagi.. ga kebayang deh jadinya gimana entar” ucap tia.

“Terserah lo sih tia, 1 hari tu singkat banget.. Gue aja ga sanggup ngapalin materi sebanyak itu. Butuh waktu 2 mingguan lah, curang itu cuman lo dan  Tuhan yang tau.. Pak Budi bukan Tuhan..”

Tia mulai bimbang..

Pulang sekolah, tia langsung pulang kerumah untuk berkutat dengan materi fisikanya yang sangat rumit itu. Ia sama sekali gak sanggup untuk mengerjakan LJK besok. Dia selalu iri terhadap teman temannya yang pintar dan bisa mengerjakan soal serumit dan sesudah itu. Saat terakhir, ia terpaksa sekali lagi, kalah sama omongan monica tadi. Tia berusaha mengumpulkan niatnya untuk mempelajari banyaknya materi fisika itu..

Lama lama otaknya mau pecah memikirkan itu semua.. akhirnya dia membuat sedikit contekan yang akan membantunya besok mengerjakan LJK. Berharap pak Budi tak curiga..

“Ini hasil contekan, saya tidak terima.. ulangi !” bentak Pak Budi

“Kok bapak bisa menuduh saya mencontek?, mana buktinya pak?”

Seketika Pak Budi berjalan menuju meja yang dipakai Tia, Tia hanya bisa menahan jantungnya yang berdegup sangat kencang.

“Apa ini hah?!.. kena kamu !” sambil menunjuk contekan yang terdapat di kotak pensil Tia.

Benar-benar sial. Padahal ia sudah benar benar menyimpan contekan itu dalam kotak pensil bagian dalam. Tia berpikir sepertinya Pak Budi mengawasinya sambil mengajar teman teman yang lain tadi. Tia tak menyangka bahwa dia bisa ketauan sama guru tua Pak Budi.

“Jujur itu harus kamu tanamkan dalam dalam, di dirimu itu. Jangan goyah pada pendirian, saya juga tau kamu pasti benci sama saya tapi ketahuilah, saya juga begini demi masa depanmu juga. Kamu sebenarnya murid yang pandai, hanya sedikit malas saja”

Malas. Satu kata yang membuat Tia benci pada Pak Budi..

“Apa kamu tidak suka saya ejek kamu pemalas? Kamu tidak terima? Coba.. mulai hari ini kamu ubah cara pandangmu itu. Jadikan “Pemalas” itu sebagai motivasi dirimu. Ingat itu”

Sejak saat itu, semuanya tiba tiba berubah..

Tia saat ini benar benar serius untuk mempelajari materi fisikanya itu. Pak Budi kasih kesempatan kepada Tia dalam satu hari lagi. Pak Budi memintanya untuk Tia dapat memahami semua materinya itu tanpa melakukan suatu kecurangan lagi. Ejekan Pak Budi membuatnya termotivasi untuk Kembali ke jalan yang benar. Tia yang tadinya malas, sekarang menjadi jiwa yang penuh semangat.

Esoknya telah tiba. Keringat dingin muncul di kepala Tiap saat sampai di sekolah, ia sangat ragu dan panik.. dia berpikir dalam hati, apakah aku bisa mengerjakan LJK untuk yang terakhir kalinya hari ini..

Saat jalan menuju kelas Tia bertemu dengan Pak Budi dan mereka saling menyapa..

“Gimana tia, apakah kamu sudah siap untuk mengerjakan LJK yang terakhir kalinya untuk hari ini?”

“Sepertinya sudah siap pak, semalam saya sudah mempelajari semaksimal mungkin materi fisika yang diberikan oleh bapak. Saya duluan ke kelas ya pak”

“Duh emang pemalass, tapi semangatnya saat ini patut diacungi jempol” kata Pak Budi.

Hasil LJK yang sudah dijawab Tia kali ini diterima oleh Pak Budi. Itu artinya Tia bisa lanjut ke tahap selanjutnya yaitu ujian sekolah. Tia berulang kali mengucapkan banyak terima kasih pada Pak Budi.

“Perjuangan dan sikap jujur itu memang sulit banget kan?, tapi kalau dikerjakan dengan teliti dan sungguh sungguh, ditambah tenggat yang mengejar, kamu pasti bisa. Semoga selanjutnya kamu bisa mengerjakan ujian sekolah dengan jujur”

Tia merasa lega, dia hanya bisa tersenyum dengan puas. Seminggu kemudian, pengumuman hasil ulangan keluar. Pak Budi menyerahkan hasil ulangan secara langsung kepada Tia.

“Bapak bangga padamu tia..”

Tia membuka hasil ulangannya yang diberi Pak Budi. Senyumnya lebar.. ia telah berhasil mendapatkan hasil yang maksimal dengan hasil usahanya sendiri. Sekarang dia bisa melanjutkan ujian sekolahnya.

Tia dengan bangga karena mendapat nilai sempurna mata pelajaran fisikanya. Kalaupun ini hanya ulangan, dia sangat bangga sekali pada dirinya sendiri.. karena sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan seperti ini.

Esok harinya Tia mencari cari orang yang dihormatinya di sekolah ini. Tetapi saat penyerahan hasil ulangan kemarin, yang memberi bukanlah Pak Budi sendiri, melainkan Ibu kepala sekolahnya. Ia bertanya pada Ibu Kepala Sekolahnya dimana Pak Budi berada.

“Beliau tidak hadir, katanya sedang menghadiri rapat dari Yayasan. Kali ini serius Tia”

Tia sedikit kecewa karena tidak bisa mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Pak Budi. Tiba tiba hp Ibu Kepseknya berbunyi ….

Ada pesan masuk, dari Pak Budi

Sampaikan pesan ini kepada Tia ya bu. Maaf saya tidak bisa hadir ke sekolah hari ini. Karena jujur, saya tidak akan bisa menahan tangis jika saya harus berada disana dan melihat kamu memperoleh hasil yang maksimal. Perjuanganmu selama ini membuahkan hasil yang sangat besar nak.. Terima Kasih atas kerja kerasmu selama ini..


Senyumnya melebar, tia menangiss terharu..


Penulis

*Cyntia Damayanti









Komentar

  1. wiii baguss, semangatπŸ˜‰πŸ’ͺ

    BalasHapus
  2. Nama gw diambil 🀣 tp gapapa bagus πŸ‘

    BalasHapus
  3. Semangat terus yaa , semoga bisa jadi inspirasi buat orang sekitar dan orang di luar sanaa

    BalasHapus
  4. Tia keren siihh, tiada tandingan, terniat benerπŸ˜­πŸ’”πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜

    BalasHapus
  5. Semoga ceritanya ada yang lebih panjang ya,soal nya baguss

    BalasHapus
  6. πŸ‘πŸ‘πŸ‘baguss

    BalasHapus
  7. Semangat menulis ya Cyn.... semoga makin berkibar dan mahir dalam menulis.
    Yang pasti dalam suatu tulisan, ada pesan moral untuk pembaca. Ganbatte...
    _ikankecil

    BalasHapus
  8. makasiii semuanyaa, ayo bantu share yaa dan komen yang banyakk terimakasii..

    BalasHapus
  9. πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

    BalasHapus
  10. KECEEEEE USUWIDJEJDISJπŸ™€πŸ™€πŸ™€πŸ™€πŸ™€πŸ™€πŸ™€

    BalasHapus
  11. kerennnπŸ€©πŸ‘πŸ€©πŸ‘πŸ€©

    BalasHapus
  12. baguss, semangat πŸ’ͺπŸ’—

    BalasHapus
  13. Good job, Cyntia. Semogq tulisan kamu jadi insiprasi buat semua yg baca. Terus menulis. I'm looking forward to reading your next writing πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  14. ayo gais bntu share + komen yang banyak yaa..

    BalasHapus
  15. sksks mangat cny kece badai euy

    BalasHapus
  16. Pengalaman yang dikemas dalam sebuah cerita, dapat mewakili pengalaman semua kita. terlebih dissaat kita membiasakan diri hal hal yang kurang baik lalu mendorong kita untuk lebih percaya diri. kereen

    Djosgandoskanlah--

    Di tunggu yah kak, karya terbarunya.

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. Menginspirasi Unchhh, ketjeh😎

    BalasHapus
  19. Mangat beb moga berhasilπŸ˜πŸ’ž

    BalasHapus
  20. good luck , semoga menang πŸ˜ΌπŸ’–πŸ’–

    BalasHapus
  21. God Will do the rest , semangatt

    BalasHapus
  22. HSHSHSHSHSH KEREN 😩😩😱😱

    BalasHapus
  23. Terinspirasi bngt sm ceritanya hshshs, cemungutt

    BalasHapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  25. Wow.....keren,semoga kedepannya sukses ya

    BalasHapus
  26. Aku baca ceritanya jdi terharu cyn ahaha.. keren

    BalasHapus
  27. tia akhirnya menyesal jg ya hahaha, good

    BalasHapus
  28. Aaaa seru bngt ceritanyaa.. moga jdi winner yaa

    BalasHapus
  29. Wuuu, ceritanya menginspirasi bnyk orang😰

    BalasHapus

Posting Komentar