Menjadilah Teman bagi Mereka

Memilih untuk menjadi seorang pendidik, tentu menjadi salah satu tantangan sekaligus motivasi besar bagi saya. Sebagai orang yang baru terjun langsung ke dunia pendidikan, saya mendapatkan banyak sekali situasi yang jauh berbeda, seperti yang terbayang disaat masih berada dibangku perkuliahan. Saya membayangkan, suatu hari ketika dibangku kuliah ada satu momentum para calon pendidik berdebat dan diskusi mengenai  konsep pendidikan. Disana tercurah berjuta-juta ide, konsep serta prospek pendidikan secara khusus ketika berada di lingkungan sekolah.


Pertengahan tahun 2019 adalah momentum dimana saya pertama kalinya menginjakkan kaki dan menetap di kota bandung dan memulai karir sebagai seorang guru. Pada awal bekerja, terasa begitu berat seolah-olah sedang mendorong batu ke puncak gunung. Saya adalah orang yang sangat bersyukur karena lingkungan saya bekerja bukan hanya memberikan rasa nyaman tapi juga mendorong untuk terus berkembang. Setiap pengalaman yang terjadi, perlahan membuka cakrawala pemikiran, meningkatkan semangat kerja dan terlebih untuk terus belajar. Jujur, disini saya akhirnya memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukan berarti berhenti belajar, melainkan menjadi orang  yang terus belajar. Waktu terus berjalan, ada begitu banyak pengalaman, dinamika dan cerita yang tak berkesudahan menghiasi hari dan menjadi penuh arti.


Awal tahun 2020 merupakan waktu dimana Covid 19 mulai memasuki dan menyebar ke seluruh pelosok bumi nusantara. Salah satu akibatnya proses pembelajaran di kelas beralih menjadi metode daring, yang selanjutnya dinamakan pembelajaran jarak jauh (Daring). Momentum itu menunjukan bahwa salah satu tugas utama setiap individu adalah menjawabi kebutuhan zaman atau situasi. Dari sinilah, kita tahu betapa pentingnya penguasaan teknologi terhadap pelaksanaan pendidikan yang tidak mungkin dihentikan karena pandemi. Memang berat dan kita tidak mungkin tinggal diam.


Bagi saya secara pribadi, inilah “momentum emas” untuk bangkit. Bangkit dari ketidaktahuan, bangkit dari rasa nyaman, bangkit dari rasa puas, bangkit dari  keegoisan yang selama ini menjadi batu sandungan untuk terus belajar. Momentum emas untuk bangkit, beranjak pergi untuk menemukan, membenahi dan meningkatkan kompetensi diri lalu kembali untuk berbagi dengan mereka yang tengah menanti uluran tangan dari kita yang adalah seorang pendidik. Disinilah kita tahu betapa berartinya kita hidup dan menjadi bermakna bagi orang lain.


Oke saya lanjut. Pendidikan Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini mengalami transformasi yang cukup signifikan, terlebih selama masa pandemi. Merdeka belajar menjadi kerangka besar pelaksanaan pembelajaran di lingkungan sekolah lalu berujung pada sebuah pembelajaran bermakna. Dan salah satu poin penting dalam pembelajaran bermakna adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan tentu melibatkan perasaan, pikiran dan tindakan serta sebuah pengalaman yang menyenangkan. Ini menjadi sangat penting pada pendidikan di masa pandemi ini. Pertanyaannya, bagaimana sih cara memanusiakan hubungan.


Baiklah saya akan menjawab. Saya pernah menonton sebuah tayangan iklan di TV beberapa tahun lalu, dan salah satu kalimat yang menggelitik pikiran saya adalah “Temenan itu bukan hanya jaim bareng, tapi harus bisa tumbuh bersama”. Kalimat ini akan menjadi sangat cocok terlebih di masa pandemi ini. Sebagai orang dewasa, saya sendiri bahkan sering mengalami kebosanan ketika harus terus berhadapan dengan komputer, apalagi anak-anak usia sekolah yang salah satu tugas perkembangan mereka adalah mulai belajar bersosialisasi dengan teman ataupun kelompok main mereka. Saya yakin betul, ini sangat dirasakan oleh semua kalangan anak-anak. Secara pribadi saya kemudian memahami bahwa, sepatutnya seorang guru harus bisa menjadi teman belajar bagi setiap siswa. 


Teman dapat didefinisikan sebagai orang yang selalu ada untuk membantu, menghibur ketika kita sedih, mengingatkan kita pada hal baik, mendorong kita untuk maju, berkorban untuk kebaikan bersama dan terlebih teman adalah orang yang selalu mendoakan dan menginginkan kita semua sukses. Teman adalah orang yang empati dan bahkan sedih ketika melihat kita gagal dan marah ketika kita tidak lagi peduli dengan diri kita. Situasi semacam inilah yang saya temui dan alami secara khusus di lingkungan SMP Ignatius Slamet Riyadi. Jujur, kadang-kadang para guru harus tegas bahkan marah ketika melihat anak didiknya bermalas-malasan, bolos ketika meet, ataupun tidak mengerjakan tugas. Jika belajar diibaratkan sebagai kue yang paling enak dan paling mahal di dunia, maka kenikmatan dari kue itu bisa dirasakan ketika semua peserta didik mendapatkan jatah dan hak yang sama dalam pembelajaran termasuk menjalankan kewajibannya. Itulah definisi teman bagi seorang guru terhadap siswa. Apakah bro and sis memiliki definisi yang sama?


Sebagai teman belajar, saya sendiri memiliki banyak sekali pengalaman unik dan menarik. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan. Berteman dapat menjadi salah satu cara untuk melihat diri dari penilaian orang lain serta peluang untuk belajar lalu tumbuh bersama dalam sebuah kebersamaan. Disinilah kualitas dari sebuah hubungan pertemanan akan diuji. Soal pengalaman unik dan menarik, ada satu momentum berharga dimana saya duduk merendah dan mewaktu dengan anak-anak slamer dalam sebuah pertemuan yang akrab dikenal dengan “Nongkrong Sepulang Sekolah”. Disana tidak ada sekat apapun yang membatasi kami untuk berteman, bersenda gurau, bercanda ria dan belajar bersama. Inilah quality time bagi saya untuk sharing banyak hal penting. Waktunya untuk mendengarkan suara mereka yang, pengalaman seru serta ide briliannya. Jujur, saya akhirnya tahu banyak hal. Nongkrong Sepulang Sekolah bukan hanya sebuah momentum untuk memupuk pertemanan, saya bisa dikatakan sebagai gudangnya ilmu. Tempat berbagi rasa dan inspirasi. Kalo boleh jujur yah, ikutan Nongkrong Sepulang Sekolah, serasa sedang kuliah bareng dosen-dosen cilik yang kaya akan pengetahuan. 


Dari berbagai rangkaian pengalaman terjadi, ada beberapa catatan sekaligus refleksi penting bagi saya diantara:

  1. Menjadi pribadi yang adaptif

Lajunya perubahan dan tuntutan zaman menuntut setiap kita untuk peka dan mampu berdiri diatas semua perubahan tersebut. Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia tentu harus mampu mempersiapkan sumber daya manusia bisa mampu bersaing di masa mendatang. Secara ringkasnya, kita tidak sedang menuju masa lalu, tapi hari ini kita kita sedang mempersiapkan hari esok. Artinya sangat memungkinkan bagi kita untuk menghindari diri dari pola atau pendekatan-pendekatan lama yang sebetulnya tidak lagi relevan untuk saat sekarang. Ingat, hidup terus berjalan maju, maka pembaharuan diri (mental) menjadi sangat penting.

  1. Mengakui kekurangan dan mau belajar

Salah satu alasan kita tidak mau belajar adalah karena merasa cukup. Jujur, saya sendiri pernah mengalami situasi semacam ini. Lalu yang terjadi adalah kita menjadi orang selalu mempertahankan dan membiasakan sesuatu yang keliru. Disini jelas yah, bahwa sekolah boleh dibatas waktu, tapi belajar pasti seumur hidup. Menjadi guru bukan berarti maha benar, menjadi guru juga pasti memiliki sisi kurangnya. Maka, sangat pantas jika guru adalah insan pembelajar.

  1. Keluar dari zona nyaman

Salah satu kemampuan di abad ke 21 adalah kreativitas. Perlu kita catat bahwa kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh pada daya kreatifitasnya. Kurangnya rasa percaya diri membuat kita mengurungkan diri pada zona nyaman. Dan hal lain yang sangat berpengaruh adalah rasa takut akan kesalahan. Bagaimana mungkin kita bisa kenyang, kalau kita tidak berjalan menuju dapur dan menikmati makanan yang tersedia diatas meja makan.


Sebagai penutup saya mengutip salah satu lirik lagunya Sheila On Seven

Tahukah lagu yang kau suka

Tahukah bintang yang kau sapa

Tahukah rumah yang kau tuju

Itu aku

Yah itu aku yang adalah temanmu. Kemarilah dan berteman denganku, kita akan bercerita tentang cinta, harapan dan perjuangan yang tak berujung.

Sekian...


Penulis

M. Edi Hurun


Komentar

  1. Bahasanya ringan (tumben lohh),, jadi saya bisa memahami maksud dan isi tulisan ini. Menjadi guru tentunya bukan yang maha benar, itu pasti. Dari sini saya berefleksi untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik (tentunya dalam menjalani pekerjaan ini). NSS (Nongki Sepulang Sekolah) juga menjadi sumber belajar untuk kita. Nuhun euy ✌️😋

    BalasHapus
  2. Wahhh pak, salut sama kalimat "Tahukah lagu yang kau suka

    Tahukah bintang yang kau sapa

    Tahukah rumah yang kau itu

    Itu aku

    Yah itu aku yang adalah temanmu. Kemarilah dan berteman denganku, kita akan bercerita tentang cinta, harapan dan perjuangan yang tak berujung." Kerenn pakkk

    BalasHapus

Posting Komentar